Minggu, 13 Maret 2016

Cerita dari Bandung Part 2



Pagi-pagi selepas kesibukan seminar sehari linguistik, saatnya refreshing-menyegarkan diri dari kesibukan sehari-hari. Menggendong tas ransel, gue langsung cus dari rumah sodara gue di Ujung Berung balik lagi ke Dipatiukur buat ke Dago Atas.

Tujuannya langsung mau ke Tebing Keraton. Sekitar jam 9 udah celingak-celinguk gimana caranya ke tebing sana yang katanya enggak ada angkot. Benar saja, untuk menuju Tahura harus pakai mobil pribadi, motor pribadi atau naek ojek. Tukang ojek sudah berjejer mau nganterin ke kompleks Tahura yang di dalamnya ada Tebing Keraton.

Karena enggak ada pilihan lain gue langsung nangkring ke motor si Akang. Di tengah-tengah jalan yang luamayan naek turun si Akang nawar mau anterin ke 5 destinasi; Tebing Keraton, Gua Jepang, Gua Belanda, air terjun Ciomas dan Bukit Bintang atau Bukit Moko dengan harga 120 ribu saja selama beberapa jam.Tadinya dipikir lumayan lah, tapi kalau kalian tahu bagaimana medannya kalian langsung teriak, Murah! 

Beneran murah karena untuk ke tempat-tempat itu susah banget kalau jalan naik turun gunung, jalan licin dan jauh. Sementara si Akang mau merelakan motornya teriak-teriak kesusahan gara-gara jalanan yang parah dan jauh itu. Bersyukur sih. 


Tebing Keraton 

Tiket masuk Tahura sih sekitar 25 ribuan udah masuk semuanya. Oke langsung aja ya ke Tebing Keraton yang tersohor di media sosial itu. Sebenarnya Tebing Keraton itu lokasinya sempit dan yang jadi andalan foto ya cuma ujung tebingnya itu. Jadi kalau rame susah dapet fotonya. Untung gue dateng pas weekday jadi gak rame-rame banget Cuma kesadaran para pendatang buat buang sampah tuh rendah banget deh. Sebel!

Dan pas gue dateng si tebing lagi dipagerin biar gak terlalu ekstrem kalau mau foto. Padahal momen dan viewnya bagusan klo ga dipagerin, hasilnnya gue nekat loncat pager demi liat view dan dapet foto bagus. Dan ini enggak boleh ditiru, serius! Meskipun ada tali yang ngebantu kita naek lagi tapi jangan terlalu nekat ya guys, apalagi klo kalian enggak pengalaman.

Tebing Keraton

Di sini puas-puasin deh ngirup udara yang seger banget, apalagi kalau kalian datang pagi-pagi katanya sih momen paling sakralnya pas sunrise tapi susah ya booo.... karena musti bangun pagi dan enggak ada angkot. 




Air Terjun Ciomas

Melanjutkan perjalanan ke Curug Ciomas yang kata si ojek bagus. Gue pikir cuma sekilo-dua kilo jalannya tapi jauhnya parah banget. Udah gitu jalannya rada-rada licin dan rusak. Kasihan sih gue sama motornya yang terus meraung-meraung. Jarang orang yang ke sini karena akses masuknya jauh. Beberapa pelajar ketemu sih lagi pada istirahat, di tengah2 juga ada tukang ojek yang katanya kalau mau nganterin itu biayanya bisa berkali-kali lipat.Kalau jalan juga untuk masuk ke sini bisa 2 jam-an.
Curug Ciomas



Pantat sudah pegel-pegel, ternyataaaaaaa....
Curug Ciomas begitu doang. Masa curugnya dipagerin. Trus gue cuma sambil memandang nanar gemericik air dari pagar. Ngenes!. Padahal asik banget mandi-mandi di sana, di sekelilingnya juga ada pohon pinus. Di sini juga banyak wisatawan dari Timur Tengah yang rela dateng jauh-jauh yeee... padahal air terjunnya dipagerin. Hasilnya enggak lama deh gue di sini mau nikmatin apaan coba?!


Gua Jepang-Belanda

Sebenernya enggak ada yang spesial juga di gua ini, tapi yang spesial itu karna gue cuma satu-satunya pengunjung jadi enggak punya barengan masuk gua. Pensaran ala-ala mistis gitu, akhirnya bayar guide buat nemenin. Padahal lama-lama juga gak serem-serem amet. Itu karena dalemnnya bener-bener gelap sampai enggak bisa liat apa-apa. Tapi kalau udah terbiasa kita bisa kok asyik nelusurin lorong-lorong di gua ini.

Gue sih merasa enggak ada yang aneh-aneh di sini makanya baca doa dulu deh sebelum masuk ke tempat wisata kayak gini. Serunya kita bisa ngintip kelalawar pada bobo pagi di sudut-sudut lorong. Yang enggak enaknya mahal klo bayar guide. Bisa sampai 30 ribu lebih mahal dari biaya masuk Tahura, Hiks. 




Bukit Moko/Bukit Bintang

Beranjak ke atas gue dibawa sama Akang ojek ke bukit moko alias bukit bintang. Dari kejauhan sudah ada patung bintang segede gaban yang menandakan itu tempatnya. Enaknya menikmati perjalanan ke sana karena banyak petani lagi pada berladang dengan buah-buah dan sayur segar hasil mereka sendiri. Meski rada miris lihat ini gunung udah botak gini. Adeeeuh. 


Sampai di bukit moko. Hutan pinus sudah berjajar cantik, apalagi gue dateng pas bener2 sepi. Jadi kerasa banget syahdunya tempat ini. awas jangan dijadiin buat pacaran hahaha.... pengelola juga lagi mempercantik tempat ini dengan menyediakan tempat duduk dan fasilitas lainnya. Setelah sekejap gue makan cemilan gue, gue tertarik masuk alias tracking ke patahan lembang yang merupakan bagian dari ini, sekitar 3-5 kilo kalau enggak salah gue lupa.

Bukit Moko
Sendirian gue membelah hutan pinus karena mau lihat patahan lembang tuh kayak gimana. Diiringi suara macem-macem gue terus jalan tapi makin khawatir karena enggak nyampe-nyampe. Udah sendirian, mau ujan. Beuh kalau udah kayak gitu langsung puter balik. Hampir gak ada orang yang gue temuin di sepanjang gue tracking. Pikiran udah macem-macem takut bener-bener sendirian di dalam hutan.

Hujan rintik turun, gue percepat langkah sampai kejatuh. Sempet mikir kalau gue jatoh lagi enggak ada orang yang nolongin nih. Akhirnya setelah keluar dari hutan gue langsung kejar si Akang buat buruan cabut mengingat medan kita berat banget turun bukit ini.

Bener aja untuk udah duluan turun, hujan langsung mengguyur gak kebayang deh bahayanya pas turun dari bukit pas hujan. Kita berteduh di perumahan elit dago atas. Sambil mikir enak juga punya rumah di sini.

Hari menjelang sore, tuntas juga rasa penasaran gue ngelilingi Bandung. Banyak lho orang Bandung yang belum ke tempat-tempat gue. Hahaha.... Cuma begitu lah seninya klo solo traveling ada deg-degan, seru, macem2. Yuk sayangi lagi Bandung biar makin kece.

 


 

Senin, 22 Februari 2016

Sejarah Diplomasi Jepang

Diplomasi adalah hubungan politik luar negeri antar dua negara yang berdaulat dan merdeka untuk kepentingan negaranya masing-masing dan sebagai bentuk pengejahwantahan politik dalam negerinya. Unsur-unsur yang dipertahankan dalam berdiplomasi adalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan militer. Unsur-unsur tersebut penting karena unsur tersebut juga merupakan komponen dalam suatu negara selain IT dan penduduk. Jika dikaitkan dengan diplomasi yang dilakukan Jepang tentunya berbeda-beda setiap zamannya tergantung dari sistem politik negeri yang diterapkannya. Misalnya pada tahun 1632 Jepang memberlakukan diplomasi tertutup (Sakoku) kemudian pada tahun 1868-1945 Jepang menerapkan sistem politik luar negeri yang berbasis militer hingga kemudian memutar haluan sistem politiknya ke bidang budaya, sosial dan ekonomi.   




Sejak restorasi Meiji, terjadi kekhawatiran pada kolonialisme yang mungkin saja menimpa bangsa mereka. Dilatarbelakangi hal tersebut Jepang berpikir bahwa jika mereka tidak ingin dijajah dan ingin setara dengan bangsa barat, mereka harus mampu menyaingi teknologi dan ilmu pengetahuan dengan cara mengirim pemuda pemudi Jepang belajar ke luar negeri untuk menimba ilmu. Tak hanya itu pembaharuan di bidang pemerintahan dengan menempatkan pemuda-pemuda terpelajar di posisi penting pemerintahan membuat negara mampu membuat kebijakan-kebijakan nasional yang baik Setelah dilakukan pembaharuan terutama di bidang pendidikan dan pemerintahan, membuat Jepang kaya akan produk yang baik tetapi barang-barang tersebut dilarang pemasarannya oleh Barat sehingga mengakibatkan Jepang sakit hati. Kemudian Jepang memutuskan untuk menempuh cara militer seperti yang dilakukan Barat.    


Indikator dari keberhasilan Jepang adalah kemandirian, selektif  memilih tenaga kerja asing, menggunakan teknologi Barat secara efektif, memegang inisiatif dan kepemimpinan pada satu tangan dan berkonsentrasi pada industri kecil yang dijalankan pribumi. Dari indikator-indikator tersebut pasti kita tahu mengapa kita masih tidak bisa maju seperti Jepang. Faktor pertama adalah kemandirian, tentu saja ini sangat sulit untuk dijalankan oleh warga negara Indonesia apalagi pemerintahannya. Meminta merupakan hal yang paling sering dilakukan warga Indonesia yang juga diikuti oleh manusianya. Sebut saja lanjutnya mengenai campur tangan asing terhadap berbagai kebijakan di Indonesia. Di Indonesia campur tangan asing yang tidak terkendali dan tidak dikontrol tak hanya memengaruhi perekonomian Indonesiatetapi juga kehidupan sosial budaya bangsa Indonesia. Pengkonsentrasian pada usaha kecil pribumi pun sulit dilakukan, pemerintahan cenderung mementingan investasi luar negeri yang angka nominalnya tak terbatas dibandingkan investasi-investasi kecil pribumi yang merupakan dasar kesejahteraan masyarakat. Kalau sudah begini pemerintahan sulit dipercaya rakyat. Jika kita mau bersama memulai reformasi pemerintahan dan kehidupan yang sebenarnya maka tak perlu melihat negara lain sebagai acuan, landasan-landasan hukum serta norma-norma yang sudah tertanam sejak dulu, sudah cukup untuk membimbing negara ini menjadi lebih baik. 

Hubungan Jepang-Korea dalam Sebilah Pedang Bermata 7

Pedang bermata tujuh atau yang dalam bahasa Korea disebut dengan Chiljido dan dalam bahasa Jepang disebut Sichishito adalah pedang yang dibuat oleh generasi keempat Kerajaan Baekjae atau Raja Keunchogo pada tahun 369. Pedang yang terdiri dari 6 cabang mata pedang dan satu mata pedang utama ini, konon diberikan kepada Raja Wa di Jepang.Yang lain mengatakan pedang ini sebenarnya dibuat oleh kerjaan Jin, China kepada Kerajaan Baekjae karena ketaatannya membayar pajak, baru kemudian Raja Keunchogo menduplikat pedang ini dan memberikannya kepada Raja Wa. 

Pedang Chiljido


Kemudian banyak yang berpendapat pedang dengan panjang 75 cm tersebut mempunyai pesan khusus antara kerajaan Jepang dan Korea. Namun pesan tersebut banyak ditafsirkan berbagai pihak, seperti menyatakan ketundukan kerajaan Baekjae ataupun sebagai hadiah.
Pesan di Pedang Chiljido



Bukan hanya soal pesan yang terkesan misterius sampai memicu kontroversi, pedang besi ini juga keberadaannya dirahasiakan. Disebut-sebut pedang ini berada di Kuil Isonokami, Prefektur Nara, Jepang dan tidak ditunjukkan kepada publik. Oleh karena itu, pihak Korea ini tengah mengambil kembali aset sejarah mereka yang dianggap telah dimiliki Jepang.