Minggu, 10 Juli 2016

Bahasa membentuk konten budaya



Bahasa adalah sistem budaya. Di dalam budaya itu ada aspek tingkah laku dan non tingkah laku. Dalam aspek tingkah laku ini, manusia berbicara dan melibatkan banyak unit bahasa seperti morfologi, sintaksis, dan semantik. Selain itu, budaya juga memuat beberapa aspek yang mendukung manusia berbahasa, yaitu bentuk, proposisi, kepercayaan, nilai, aturan, cara, rutinitas dan adat.


1. Bentuk

Dari pengalaman, manusia mampu melakukan kategorisasi. Proses pengkategorisasian berhubungan dengan bahasa. Sebab bahasa menjadi variable untuk proses tersebut. Seperti dalam membedakan warna, kata-kata kita membatasi dan membedakan beragam warna yang telah masuk ke dalam daya sensorik kita.  Dalam mempelajari bentuk budaya, semantik deskriptif memainkan peranan penting karena semantik membantu manusia memahami bentuk budaya dari kata. 

2. Proposisi

Proposisi ini membuat kategori-kategori bisa dipertukarkan. Kita bisa menganalogikan bentuk ke dalam bentuk yang lain yang sudah ada. Beberapa proposisi terbentuk melalui pengalaman namun sebagian lagi tidak.  Sebagai contoh kita bisa mempertukarkan pengalaman warna ungu dengan membayangkan topi ungu menjadi bunga ungu atau kambing berwarna ungu. Proposisi ini banyak membantu terutama dalam membangun imajinasi kita terhadap masa depan. Pengkodean linguistik dan manipulasi verbal menjadi salah satu produk imaginasi.

3. Kepercayaan

Proposisi yang sudah ada di kepala kita menyebabkan kita punya kepercayaan. Satu preposisi terbentuk bisa berasal dari faktor logis dan empiris tetapi juga alasan sosial dan emosional. Seperangkat pengetahuan dan pengalaman yang merupakan bagian dari proposisi bisa menuntun ke arah mana kita mau bertindak lewat bahasa. Proposisi yang seseorang percaya bahkan bisa diyakinkan ke orang lain lewat bahasa. Jika kepercayaan itu diterima satu kelompok maka kepercayaan itu akan menjadi sistem di kelompok tersebut. 

4. Nilai

Ada perbedaan antara satu orang dengan yang lainnya dalam merasakan kepuasan dan kebutuhan. Dengan kata lain, orang-orang punya cara berbeda dalam menilai sesuatu. Setiap orang yang tumbuh di satu golongan atau kelompok tertentu cenderung memegang nilai yang sama sebab mereka punya pengalaman yang sama pula. Rasa persamaan terhadap nilai ini membuat ikatan solidaritas yang kuat. Manusia juga cenderung untuk mendapatkan kepuasan maksimal dengan usaha terbaik mereka atau mencoba meminimalisir datangnya rasa frustasi, seperti dengan cara mengatur waktu dan berhemat.

5. Peraturan dan nilai masyarakat
Kebebasan untuk mendapatkan kepuasaan dan keinginan harus melewati nilai dan peraturan sosial yang ada di masyarakat.  Peraturan sosial atau kontrak sosial akan mengatur kategori-kategori yang sudah dimiliki seseorang, bekerja dengan kategori orang lain atau sesuatu yang lain secara bijak dalam kehidupan bermasyarakat.  Dalam aktivitas sosial seperti ini hak dan kewajiban membatasi manusia dalam berperilaku dan keinginan manusia. Sedang nilai-nilai adalah hasil dari peraturan sosial tersebut, satu  orang  akan memercayai dan setia kepada nilai kelompok tertentu yang dia masuk di dalamnya.  Peraturan bisa diterapkan melalui tulisan dan aktivitas verbal.  Banyak yang mengatakan penerapan peraturan dalam bentuk verbal jauh lebih efektif dibandingkan dengan peraturan tertulis. Keefektifan penerapan peraturan bisa juga dilakukan dari membaca fabel atau cerita karena ada keterikatan emosi dan kebenaran yang terjalin saat kita melakukan komunikasi secara verbal.

Senin, 04 Juli 2016

Sejarah Penjelajahan Balon Udara di Dunia


Sejarah  penjelajahan balon terbang di dunia

Sejak sekitar 216 tahun yang lalu manusia sudah menggunakan balon terbang. Tokoh utama penerbangan ini adalah Bertrand Piccord dari Swiss dan Brian Jones dari Inggris, pada 1 maret 1999 mereka memulai penerbangan mereka dengan menggunakan balon udara Rosaire yang dinamakan Brightling Orbiter No 3. 

Bertrand Piccord  dan Brian Jones
Perjalanan dimulai dari penggunungan Alpen Swiss yang tingginya seperti gedung bertingkat 20. Pertama-tama Brightling Orbiter 3 ini terbang menuju Afrika Utara setelah itu dengan menggunakan baling-baling jet mereka menjelajahi China, Taiwan, Meksiko hingga menempuh jarak total 42.180 km, akhirnya pada 20 Maret mengakhiri penjelajahan dunia mereka selama 19 hari di Gurun Sahara Afrika yang bersuhu 9,27 f  Penjelajahan balon udara pertama Brightling Orbiter 3 ini melampaui penjelajahan terdahulu yang hanya menempuh jarak total 22.910 km dan menghabiskan 17 hari 18 jam 25 menit.  

Ingin jadi pilot balon udara? Ini caranya

Jika ingin menjadi pilot balon udara. Jika ingin menjadi pilot balon udara pertama-tama bergabung dulu dengan asosiasi balon udara korea internasional. Selanjutnya jika ingin mendapatkan sertifikat harus melewati tes penerbangan dan tes  lainnya dari asosiasi balon udara internasional. Syaratnya antara lain.


1. Berumur di atas 14 tahun
2. Calon penerbang harus mempunyai catatan terbang 20 jam dan melengkapi persyaratan berikut ini.
a. mampu terbang take off-terbang-mendarat selama 15 menit dan mempunyai pengalaman mengoperasikan burner
b. Instruktur terbang dan pengawas keamanan menilai kelaikkan terbang selama dua jam terbang
c. Mampu mengoperasikan burner pada take off-terbang-mendarat dan saat mendarat harus sudah dalam tekanan 2000 ft
4. Setelah itu badan pengawas keamanan akan memastikan kelaikkan terbang
5. Mengumpulkan laporan dan tulisan mengenai penerbangan
6. Pimpinan yang ditujuk oleh asosiasi penerbangan menyerahkan evaluasi dan memastikan kembali kelaikkan terbang baru disetujui.
  


Sebelum terbang, penerbang balon udara harus memperhatikan hal-hal berikut ketika terbang dengan balon udara

1. Tidak boleh terbang jika langit sedang berkabut karena pandangan akan terganggu
2. Tidak boleh terbang ketika ada awan kumulonimbus atau sedang terjadi kenaikan arus udara panas
3. Dilarang terbang saat angin di permukaan berkecepatan 8m per detik (untuk pemula 4 m per detik)
4. Jika kantong balon udara kehujanan maka daya tahannya berkurang
5. Jangan biarkan suhu di dalam kantong balon udara melebihi batas
6. Ketika muncul kekhawatiran selama terbang jangan sekali-kali membuang peralatan atau tabung LPG  yang ada di dalam balon udara
7. Saat ingin terbang dengan menggunakan tali tambatan karena khawatir terbang lebih berbahaya, angin harus tidak lebih  dari 4m per detik dan sangat berbahaya jika ketinggian lebih dari 50 m
8. Untuk memastikan kestabilan terbang pilot memerlukan alat komunikasi dan pilot serta tim pendukung diharuskan terbang dengan menggunakan walkie talkie agar komnikasi lebih lancar
9. Dilarang merokok untuk menghindari gas propane meledak atau mengeluarkan api   


Sumber: 
Komik ilmiah 1, balon udara/ Terbang melintasi selat Korea
Penulis Shin Jae Hwan / Editor Hu Min Sik

Penulis  Shin Jae Hwan
Penerbit comicom


Kamis, 30 Juni 2016

Menelisik Kearifan Lokal di tanah Celebes Bagian I

Salah satu awal mula kecintaan gue sama traveling salah satunya karena perjalanan ini. Sebelum terbang ke Sulawesi, sempet cekcok juga sama kantor sebab meski udah izin awal-awal tetapi mendekati hari H justru izin dipertanyakan.

Gila banget kan?! untung akhirnya lolos juga, ya iya lah duit gue yang Rp 1,5 juta terbang ke sana masa harus gosong gara-gara ga jadi. Oh ya gue juga dapat harga Rp 1,5 juta all in berkat daftar open trip terakhir-akhir dan dikasih diskon. Murah banget kan, dengan pelayanan so so lah.

Perjalanan terbang ke Makassar untuk pertama kalinya lumayan horor karena saat itu hujan lebat, langit berkilat-kilat, guntur menggelegar. Ngeri banget. Penerbangan malam yang harusnya gue tidur nyenyak di dalamnya malah ketakutan, memejamkan mata sambil baca-baca beragam doa.

Alhamdulillah sampe juga di Makassar dengan bandara yang saat itu masih baru direnovasi dan keren banget mirip mal. Dari bandara kita enggak bisa berlama-lama karena mini bus udah menunggu untuk langsung cus ke Tana Toraja.

Beruntung gue termasuk orang yang pelor jadi kerjaannya di mobil tidur mulu dan perjalanan nyaris 12 jam enggak kerasa. Lama banget lho kita di mobil mulai dari jam 3 pagi dan baru sampai jam 3 sore. Di sela-sela perjalanan kita mampir ke gunung nona yang pemandangannya super bagus.

Gunung Nona

Gunung Nona adalah gunung kehijauan yang berada di wilayah Enrekang. Biasanya orang yang mau ke Toraja pasti mampir ke sini dulu. Sejuknya bukan main! sebenernya kita cuma bisa lihat gunung ini dari kejauhan yang terhampar hijau. Sambil menyeruput kopi, makan indomi ataupun numpang mandi kita berhenti sejenak di sini.

Di kedai kecil ini gue beli indomi yang lama banget dianter.... dan setelah gue perhatikan kalau kita yang mesen sendiri emang gak terlalu ditanggapin tapi kalau orang asli sana yang mesen langsung diantar. Wow  ternyata mereka mendahulukan pelayanan ke sesamanya daripada turis dari luar. itu sih yang gue rasakan.

Di sini juga ada berbagai macam snack khas Enrekang, salah satu yang unik adalah keju asli Enrekang yaitu Dangke. Gw beli snacknya yang mirip cheese stick dan orang Jakarta banyak yang doyan lho.

Kita enggak berlama-lama di sini karena pulangnya toh kita akan istirahat lagi di sini. gitu katanya. perjalanan pun dilanjutkan hingga akhirnya kita sampai di gerbang selamat datang Tana Toraja.

Tana Toraja

Kota Toraja yang kaya akan budaya ini emang udah bertahun-tahun jadi tujuan wisata, dan mereka sadar banget sama potensi wisata mereka. Mulai dari sini semuanya terasa rata dengan rumah Tongkonan yang biasanya di dalamnya ada mayat-mayat disimpan untuk kemudian diupacarain kalau duit mereka udah terkumpul. Dalam upacara itu mereka harus menyembelih puluhan babi, makan bersama, menari dan menyanyi baru deh ditaro di bukit-bukit di sekitaran mereka.

Selama belum diupacarin, mayat mereka ditempatin juga di tongkonan  yang di luar tongkonan itu dipasang banyak tanduk kerbau, semakin tanduk kerbaunya banyak maka semakin dapat prestise mereka.

Pas banget waktu ke Toraja, ada upacara seorang jenazah polisi yang mau dikubur di tebing-tebing. Babi-babi hitam diarak untuk disembelih, di sisi lain para orang-orang menari-nari, selama itu dibacakan doa-doa oleh ketua adat. Entah kenapa gue berasa mistisnya dapet banget.


Langsung deh jiwa jurnalis tergerak merekam berbagai moment. Yang mengerikannya dan gue gak setuju itu cara penyembelihan mereka sama hewan. Masa babi yang udah merintih dan menangis diikat di kayu-kayu disembelihnya main bacok aja pake golok. Mending bacoknya langsung bikin si babi mati, tapi yang terjadi bacokan yang langsung di tubuh itu bikin darah babi muncrat-muncat, menggelepar trus kehabisan darah sampai akhirnya mati. Sungguh mengenaskan.

Habis selesai upacara mereka babi yang udah mati tadi dimasak trus dimakan rame-rame sama warga setempat. Sebenernya gue ketinggalan banget momen upacara ini, jadi gue sempetin tanya-tanya orang lokal sekalian buat berita.

Bener saja orang lokal Toraja sendiri sebenernya keberatan dengan upacara macam begini, kenapa? karena biayanya sungguh besar, mereka harus beli kerbau, beli babi dan macam-macam yang harganya bisa satu mercy.

Tak ayal akhirnya mereka menabung hanya untuk upacara, sementara untuk kebutuhan hidup, sekolah mereka harus pas-pasan kan kasian ya. Ya dilematis sih.


Dan yang perlu diketahui juga mereka mungkin menganggap kerbau seperti gambar kerbau bule di atas lebih berharga dari apapun. Kendati begitu, panorama Toraja cukup membuat mata segar karena dikelilingi bukit karst yang keren banget






Senin, 13 Juni 2016

Ideologi terselubung dalam pariwara



Terkadang pemirsa tidak sadar ataupun tidak mengetahui bahwa ada makna dan ideologi di balik pariwara atau iklan. Tanda dalam pariwara tersebut bisa dibaca dengan proses signifikasi dan memahaminya sebagai mitos. Mitos atau mythes adalah suatu jenis tuturan atau sistem komunikasi yang membawa pesan baik verbal non verbal atau campuran di antaranya. Untuk memaknai iklan pertama-tama harus mengetahui dulu konsep signifikasi Roland Barthes. Menurut Barthes ada dua tahap untuk memahami makna yaitu tanda menjadi penanda kemudian punya petanda lain.

Barthes

Sebagai contoh, pada tahap pertama ‘Volvo’ mempunyai konsep (petanda) merek mobil kemudian pada tahap kedua mempunyai petanda ‘kemewahan’. Perluasan makna ini disebut dengan konotasi. Dari sini diketahui tahapan kedua atau petanda kedua tidak lepas dari petanda pertama. Bahkan sebenarnya tahapan pertama saja cukup untuk membangun makna, namun tanda yang dihasilkan pada tahap pertama bergeser ke tahap kedua sehingga menyisakan tempat untuk tanda yang hadir selanjutnya. 

Selain itu, konsep yang diciptakan mitos itu kerap berubah-ubah mulai dari dapat dibuat kembali, terurai ataupun hilang. Namun ketika konsep ini hilang maka konsep yang terbentuk kembali tidak akan sama dengan konsep awalnya. Seperti, perbedaan pemakanaan rumah Gojong di Minangkabau dengan yang ada di Jakarta. Orang yang melihat rumah tersebut di Minangkabau tidak akan merasa terlibat sebesar keterlibatan pemaknaan orang yang melihatnya di Jakarta.

Dari mitos inilah banyak orang mulai membentuk dan menanamkan idelogi. Menurut Van Zoest, ideologi adalah sejumlah asumsi yang memungkinkan penggunaan tanda. Lebih jelasnya orang yang ingin tahu lebih jauh tentang budaya harus mengerti dulu ideologi kelompok budaya tersebut. Sehingga jika ingin menanamkan ideologi maka bisa ditampilkan lewat  mitos yaitu pesan atau ungkapan budaya baik secara verbal atau non verbal.

Proses mitos atau pesan menjadi ideologi adalah sebagai berikut :
a.      Pemaknaan dimulai dari pemaknaan harfiah yaitu pembaca menyesuaikan diri dengan penanda yang kosong. Sedangkan si pembuat mitos mulai mengisi pemakanaan dengan konsep yang sesuai.
b.     Jika pembaca sudah bisa menyesuaikan diri dengan bentuk dan arti dalam penanda itu maka pemaknaan tahap kedua selesai. Di sini pembaca menganalisis mitos atau konsep yang disajikan dan mulai memahaminya layaknya pembuat mitos.
c.      Jika sudah menyatu dan berhasil menyesuaikan diri dengan penanda mitos, dia akan mulai menemui makan tersebut amigu.

Dari sini disimpulkan bahwa pemirsa melangkah dari semiologi menuju ideologi dan melihat fungsi dari mitos yang disajikan iklan. Meskipun pada dasarnya mitos tidak menyembunyikan sesuatu dan tidak pula menonjolkan pesan yang disampaikannya. Tapi mitos bersifat deformasi yaitu pembelokan makna sehingga memungkinkan mitos bisa mengubah pengalaman menjadi sesuatu yang alamiah.

Ada tiga posisi yang yang berkaitan dengan mitos, pertama, si pembuat mitos adalah orang yang menyebarkan ideologi. Kedua, si ahli mitos adalah orang yang menganilisis mitos. Terakhir, si pembaca mitos (pemirsa) adalah orang yang menerima ideologi yang disebarkan oleh pembuat mitos. Dalam menyebarkan mitos, jika pariwara dihentikan atau penjualan produk tak berhasil maka bisa dikatakan penyebaran ideologi dikatakan tidak berhasil.

Sebagai contoh dalam propaganda ideologi yang disampaikan tersirat dalam iklan layanan masyarakat PLN.  

A.    Di situ digambarkan beberapa lelaki berkumpul dan berbincang di tempat yang kumuh. Salah satu dari para pemain yakni pelawak sambil memegang stop kontak dia berkata. “Kalau subsidi dicabut rakyat mati angin” tokoh yang lain menimpali “Rakyat yang mana? Mbok jangan pake alasan rakyat kecil terus, deh! Dapat punya kipas angin kok minta disubsidi. Yang keringetan dong, yang disubsidi. Rakyat kecil dikipas terus, ya kepanasan toh”. Laki-laki pertama “Kipassss, kipass! Angiiiin, angiiin!”. Laki-laki kedua “Jaman susah, kipasin dong orang yang lebih kecil, agar kita-kita ini dapat angin toh!” dibalas oleh lelaki pertama “Kipasss,kipasss!” Laki-laki kedua menimpali “Angiiin,angiiin!” Laki-laki pertama “panaaas, paaanas!”. Laki-laki kedua “Angin, angiiin!”

Dari sudut pembuat iklan :
Dalam iklan sosialisasi kenaikan listrik oleh PLN ini, seolah-olah tampak PLN berpihak pada rakyat. Seperti ucapan tokoh yang mengatakan jika “subsidi dicabut rakyat kecil susah”. Kemudian ucapan itu langsung diikuti ujaran pemilik kipas angin “orang orang yang gelisah karena harga listrik naik” . Dari situ si pemilik kipas angin tentunya orang mampu dan seharusnya bisa membantu rakyat.

Dari sudut pandang ahli mitos  :
Ahi mitos di sini mencoba membaca pariwara itu secara berbeda. Dari iklan yang sekilas menonjolkan sosialisasi kenaikan harga listrik oleh PLN, ahli mitos justru memandang PLN hanya berlagak berpihak pada rakyat. PLN seakan-akan membebankan tanggung jawab kenaikan harga listrik kepada golongan lain demi kepentingan rakyat. Seperti dalam kalimat “rakyat mana? Mbok jangan pake alasan kecil terus deh! Dapat punya kipas angin kok minta disubsidi. Yang keringetan dong yang disubsidi. Rakyat kecil dikipas terus ya kepanasan dong”.

Selain itu pemeran iklan tersebut, PLN mencoba menggambarkan rakyat miskin dengan latar tempat yang kumuh dan pemeran iklan yang tua-tua. Tak jarang para pemain di-close up untuk memperlihatkan citra ‘keniskinan’ mereka. Padahal bisa saja ditampilkan secara wajar dan sederhana.

Dari sudut pandang pemirsa :
Kita tidak menyamaratakan pandangan pemirsa terhadap iklan sosialisasi kenaikan harga listrik PLN ini. Mungkin sebagian menggangap iklan itu sebagai corong PLN saja untuk mencapai tujuannya yaitu menyosialisasikan kenaikan harga listrik. Di lain pihak ada yang menganggap iklan ini kurang berbudaya karena bicara sambil tidur santai .

Komentar :

Pesan atau mitos yang diulang-ulang tentunya menjadi ideologi masyarakat. Namun yang perlu dicermati bahwa tidak semua ideologi dalam pariwara sampai kepada pemirsa pada umumnya. Sebab harus diketahui ada banyak latar budaya di Indonesia sehingga nilai-nilai lokalitas berbeda. Bahayanya ideologi yang sudah terserap masyarakat kota menjadi ideologi baru untuk masyarakat pedesaan, dimana TV juga menjadi hiburan untuk mereka.

Memang seharusnya hal tersebut menjadi perhatian bagi para pembuat iklan dan penyebar ideologi di tengah masyarakat berbhineka ini. Selain menimbulkan sisi negatif, ideologi yang disajikan juga bisa memacu kemajuan di desa tersebut. Bukan hanya bermasalah di interpretan sebagai penerima tanda, permasalahan dan tanggung jawab moral juga ada pada pembuat iklan. Para pembuat iklan cenderung menanamkan ideologi kebudayaan kota sebagai jualan iklan mereka. Padahal ideologi yang terkandung dalam iklan selalu harus berkaitan dengan kebudayaan. Jika kebudayaan suatu daerah tidak menerima namun di lain pihak kebudayaan lainnya menerima akan menjadi masalah tersendiri.

Oleh karena itu, di Indonesia yang punya beragam budaya alangkah baiknya menanamkan ideologi sesuai dengan norma atau nilai umum yang dapat diterima masyarakat bukan berpatokan kepada kalangan dan menghiraukan budaya Indonesia yang lain. Sebagai contoh , iklan rokok Surya yang menampilkan sosok orang sukses dengan hidup glamor. Dengan tanda mengendarai mobil mewah, kerja di gedung bertingkat, berpesat dan sebagainya. Apakah iklan tersebut cocok untuk kalangan menengah ke bawah atau masyarakat pedesaan. Sukses bagi masyarakat pedesaan tentunya bukan selalu seperti itu, sukses bagi orang desa bisa saja punya sawah berhektar-hektar atau juragan angkot misalnya. Si pembuat iklan menampilkan seolah-olah sukses hanya untuk orang kota dan milik kaum jetset. Tak heran jika iklan ini ditampilkan terus menerus bisa jadi ideologi sukses  dengan mobil mewah, kerja di kantor, dikelilingi gadis cantik dan sebagainya.