Hidup jauh dari akses informasi publik, Suku Dani di Papua mengalami banyak hal yang berbeda dari orang-orang. Salah satunya dalam mengenal warna. Mereka hanya mengenal dua warna yaitu hitam dan putih atau gelap dan cerah. Sebutan untuk warna cerah adalah Molla sedangkan untuk warna gelap adalah Molli. Perlu diketahui, mereka sebenarnya tidak buta warna. Namun pengenalan dan konsep terhadap warna terbatas.
Salah satu linguis, mencoba menguji pemahaman mereka terhadap warna kuning. Hasilnya, mereka mengelompokan warna kuning sebagai warna cerah atau yang mereka sebut dengan Molla. Kendati begitu untuk mengelompokan waran kuning ini sebagai Molla mereka juga memerlukan waktu yang sangat lama.
Fenomena warna di Madura
Pemahaman terhadap warna yang unik juga terjadi di Madura. Orang-orang madura tidak mengenal warna hijau. mereka menyebut hijau dengan biru daun. Sedangkan biru disebut sama dengan yang lainnya.
Apa yang menyebabkan konsep warna berbeda ?
Warna bukanlah konsep universal, sebab warna bisa diciptakan suatu kelompok masyarakat tergantung dari lingkungan dan budaya yang hidup di dalamnya. Namun warna bisa bersifat universal ketika dikaitkan dengan warna terang dan gelap serta pemberian warna terhadap lingkungannya seperti langit, tanah, daun dan sebagainya.
Minggu, 12 Mei 2013
Minggu, 07 April 2013
Cuma di Korea wanita bisa dapatkan kembarannya
Kini publik korea dihebohkan dengan beredarnya foto penyanyi Kim Sarang yaang amat serupa dengan penyanyi sekaligus aktris Suzy, Miss A.
Pasalnya meski berumur Kim Sarang jauh lebih tua 16 tahun dari Suzy miss A namun mereka amat mirip. dalam foto yang tersebar luas di forum online, Kim Sarang tampak berfoto dari samping. Padahal dibandingkan dengan Suzy Miss A. Bibir Kim Sarang terlihat lebih penuh sedangkan hidung, telinga dan yang lain tampak sempurna seperti yang diimpikan wanita-wanita lain seusianya.
Foto ini pun dibawa dan ditunjukan kepada orang-orang hasilnya banyak yang salah kira, jadi sebenarnya siapa mirip siapa? Fenomena ini tak lepas dari kuatnya budaya operasi di Korea sehingga kasus seperti Kim Sarang dan Suzy Miss A ini bisa jadi satu dari puluhan kasus karena model hidung yang dioperasi bisa saja sama dengan keinginan orang lain.
http://news.heraldcorp.com/view.php?ud=20130408000626&md=20130408133642_AP
Pasalnya meski berumur Kim Sarang jauh lebih tua 16 tahun dari Suzy miss A namun mereka amat mirip. dalam foto yang tersebar luas di forum online, Kim Sarang tampak berfoto dari samping. Padahal dibandingkan dengan Suzy Miss A. Bibir Kim Sarang terlihat lebih penuh sedangkan hidung, telinga dan yang lain tampak sempurna seperti yang diimpikan wanita-wanita lain seusianya.
Foto ini pun dibawa dan ditunjukan kepada orang-orang hasilnya banyak yang salah kira, jadi sebenarnya siapa mirip siapa? Fenomena ini tak lepas dari kuatnya budaya operasi di Korea sehingga kasus seperti Kim Sarang dan Suzy Miss A ini bisa jadi satu dari puluhan kasus karena model hidung yang dioperasi bisa saja sama dengan keinginan orang lain.
http://news.heraldcorp.com/view.php?ud=20130408000626&md=20130408133642_AP
Selasa, 05 Februari 2013
Wajah Monas Tak Lagi Berseri
![]() |
| Monas di waktu malam |
Monas sebagai ikon Jakarta bagi sebagian orang semakin tidak memikat.
Mungkin pendapat saya subjektif, tapi fakta-fakta yang disampaikan pengelola Monas mampu menghipnotis Anda untuk lebih peduli.
Mungkin pernah mendengar kelakar seseorang yang mengatakan emas Monas sudah luntur. Ternyata benar! dari wawancara yang saya lakukan, pengelola mengatakan memang serpihan emas Monas semakin banyak yang berjatuhan.
Yang terparah, meski telah dipercantik dengan beraneka lampu, monas tetap tugu berdaki yang tak pernah dibersihkan. 10 tahun sudah badan Monas tak pernah lagi tersentuh air dan sabun.
Alasannya sederhana, pengelola masih putar otak buat mandiin Monas. layaknya manula, Monas tak lagi muda, kondisi yang lemah ini membuat Monas menjadi rentan terhadap zat-zat yang menempel di tubuhnya.
Keluhan pengelola tak melulu soal fisik monas tapi keadaan yang tak bersahabat di sekitaran Monas, Semakin tua tentunya Monas perlu sirkulasi udara dan ruang yang lebih luas.
Yang memprihatinkan justru Monas dijejali oleh banyaknya pedagang yang turut menyumbang berton-ton sampah ke Monas.
Ya, Monas juga bisa diumpamakan sebagai kupu-kupu malam. Cantik ketika malam, tapi ada penyakit kronis yang membuatnya kelam.
Melihat ini, apa Anda masih berpikir Monas bagunan yang tegar?
Rabu, 02 Januari 2013
Kejujuran membawanya ke rumah Tuhan
![]() |
| Agus Chaeruddin |
Manusia selalu diberikan pilihan dalam hidup, termasuk memilih untuk menjadi seorang yang jujur. Di tengah situasi seperti ini, banyak yang berpikir ulang untuk menjadi jujur. beban ekonomi yang kian menghimpit membuat banyak orang jujur dicaci karena 'ketololan'nya menyia-nyiakan uang.
Jujur sekarang ini seakan samar dengan munafik, orang jadi sulit membedakan mana yang jujur mana yang menolak rezeki datang.
Bisa saja dengan alasan tidak tahu seorang menemukan uang lalu masuk ke kantongnya. toh, itu bisa dibilang 'ga boleh menolak rezeki yang datang'. Entahlah.....
Sekarang coba Anda bercermin dengan Agus Chaeruddin. Anda mungkin takjub dengan aksi heroiknya, mengembalikan uang yang tergeletak pasrah di dekat tong sampah di tempatnya bekerja.
Uang senlilai 100 juta itu tak sepeserpun diambilnya. Hasilnya, Agus kini dihujani pujian dan hadiah. Bahkan saat dipancing dengan pencitraan, PKS rela meminang Agus untuk jadi calegnya.
Sebenarnya saya sendiri mengganggap wajar sosok Agus, saya sudah berbaik sangka padanya saat pertama kali bertemu. sekali lagi orang yang dekat pada agama memang jarang melakukan hal yang tidak terpuji.
Jadi itu biasa, saya menilai Agus juga bukan orang yang langsung ngeh terhadap apa yang dia lakukan. Baginya itu kebaikan yang amat biasa. Bahkan ketika berulang kali ditanya baik oleh wartawan dan Hidayat Nur Wahid (PKS). Agus tampak kikuk dan bersikap biasa, saya tahu dia bukan orang yang gemar pencitraan.
Sampai-sampai wartawan kesulitan menangkap emosi dan angle tentunya. kecuali saat dia menerima hadiah umroh. Tapi poin terpenting dari pertemuan saya dengan Agus adalah jangan pernah berpikir Anda telah melakukan kebaikan, sekali lagi kebaikan adalah akhlak yang dilakukan tanpa berpikir.
Itu yang saya lihat darinya, kebaikan tak terpikirkan itu pastinya ikhlas. Jujur salah satunya. Jika Anda belum jujur maka berpura-puralah untuk jujur. Suatu saat Anda akan lupa kalau Anda sedang melakukan kejujuran.
Dan sekali lagi dimohon bedakan antara menolak rezeki dengan kejujuran, perhatikan dimana hak kita saat melakukan kejujuran.
http://www.merdeka.com/peristiwa/basuh-kaki-orang-tua-agus-chaerudin-ketiban-rezeki-umroh.html
Sabtu, 15 Desember 2012
Pedihnya hidup Syamsul !! - Dituduh Mencuri Tanpa Bukti
Rasa kantuk dan jenuh saat itu membawaku pada Syamsul. Pertama melihatnya, saya pikir dia itu preman atau yang lainnya. Bosan menunggu kompolnas yang terus menyidangkan hal-hal yang tak kunjung tuntas duduklah aku di sebelah lelaki 23 tahun ini.
Saat itu seorang senior mendekatinya dan memintanya untuk bercerita lagi. Samsyul yang saat itu amat kumal menyambutnya dengan ramah dan memulai cerita tragisnya dengan senyum ketegaran.
Aku langsung terperanjat saat tahu dia adalah korban salah tangkap polsek Rungkut Surabaya. Tanpa izin senior dan Syamsul aku langsung masuk ke dalam tanya jawab mereka sembari sibuk mengetik.
Hebatnya dia benar-benar berjuang untuk memulihkan nama baiknya tidak seperti korban lainnya yang cenderung pasrah.
Perjuangannya dimulai dari laporan polda Jatim, tak mau rekan seprofesinya diganggu, polisi pun enggan memproses kasus Syamsul yang saat itu dituduh mencuri TV 21 inchi.
Tahu dirinya tak digubris, Syamsul langsung saja tancap gas ke Jakarta dan menemui lembaga penegak hukum lainnya seperti Mabes Polri, Kompolnas dan Komnas Ham.
Sayangnya lagi, nasib serupa juga menghampirinya, untungnya Syamsul bertemu kami para media di Jakarta yang memang beritanya lebih tersorot dimana-mana. Bahkan dalam hitungan jam dia sudah bisa bicara di TV.
Mabes Polri pun saya minta untuk menanggapi kasus ini. Irjen Pol Suhardi saat itu terkaget-kaget dengan cerita Syamsul, dan saya yakin ini jadi tamparan untuk Polri.
Tapi untuk sekarang ini aku harus mengatakan maaf padanya dan mungkin rasa ini juga mewakili wartawan yang lain.
Kesibukan dengan berita mainstream buat cerita Syamsul bagai sinar matahari di mendung kelabu. Benar, ceritanya tertutup dengan cepat. aku tak tahu lagi perkembangan Syamsul yang gagal nikah akibat insiden salah tangkap.
Selain tak punya nomor kontak, keberadaan Syamsul juga tidak diketahui, Terahir Naser (komisioner Kompolnas) diketahui menampungnya hidup selama di Jakarta. tapi entahlah, salah kami, media yang tak bisa selalu mengikuti kasusmu.
Oh Syamsul cuma barisan ini yang akan mengenangmu.
http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-tragis-syamsul-arifin-korban-salah-tangkap-polisi.html
Saat itu seorang senior mendekatinya dan memintanya untuk bercerita lagi. Samsyul yang saat itu amat kumal menyambutnya dengan ramah dan memulai cerita tragisnya dengan senyum ketegaran.
Aku langsung terperanjat saat tahu dia adalah korban salah tangkap polsek Rungkut Surabaya. Tanpa izin senior dan Syamsul aku langsung masuk ke dalam tanya jawab mereka sembari sibuk mengetik.
Hebatnya dia benar-benar berjuang untuk memulihkan nama baiknya tidak seperti korban lainnya yang cenderung pasrah.
Perjuangannya dimulai dari laporan polda Jatim, tak mau rekan seprofesinya diganggu, polisi pun enggan memproses kasus Syamsul yang saat itu dituduh mencuri TV 21 inchi.
Tahu dirinya tak digubris, Syamsul langsung saja tancap gas ke Jakarta dan menemui lembaga penegak hukum lainnya seperti Mabes Polri, Kompolnas dan Komnas Ham.
Sayangnya lagi, nasib serupa juga menghampirinya, untungnya Syamsul bertemu kami para media di Jakarta yang memang beritanya lebih tersorot dimana-mana. Bahkan dalam hitungan jam dia sudah bisa bicara di TV.
Mabes Polri pun saya minta untuk menanggapi kasus ini. Irjen Pol Suhardi saat itu terkaget-kaget dengan cerita Syamsul, dan saya yakin ini jadi tamparan untuk Polri.
Tapi untuk sekarang ini aku harus mengatakan maaf padanya dan mungkin rasa ini juga mewakili wartawan yang lain.
Kesibukan dengan berita mainstream buat cerita Syamsul bagai sinar matahari di mendung kelabu. Benar, ceritanya tertutup dengan cepat. aku tak tahu lagi perkembangan Syamsul yang gagal nikah akibat insiden salah tangkap.
Selain tak punya nomor kontak, keberadaan Syamsul juga tidak diketahui, Terahir Naser (komisioner Kompolnas) diketahui menampungnya hidup selama di Jakarta. tapi entahlah, salah kami, media yang tak bisa selalu mengikuti kasusmu.
Oh Syamsul cuma barisan ini yang akan mengenangmu.
http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-tragis-syamsul-arifin-korban-salah-tangkap-polisi.html
![]() |
| foto Syamsul |
Sabtu, 10 November 2012
Pejuang muda di Tapal Batas
Berbekal ilmu dan kepedulian, Ade Rahayu, mahasiswa teknik Universitas Indonesia (UI) menunjukkan semangat kepahlawanannya dengan mengajar di perbatasan. Februari 2012, menjadi pembuktiannya sebagai pahlawan muda yang turun dari menara gading untuk mencerdaskan anak-anak di SDN 06 Sungai Tembaga, titik Dusun Sungai Tembaga, Desa Tinting Seligi, Kecamatan Badau, Kalimantan Barat.
"Berangkat dari keprihatinan mengenai kondisi pendidikan di Indonesia, kami ingin melakukan suatu tindakan nyata sebagai bentuk tanggungjawab moral dan intelektual sebagai seorang mahasiswa. Hal sederhana yang terpikirkan pada waktu itu saya ingin menjadi guru, di daerah perbatasan. Kami menamakan kegiatan ini sebagai 'Gerakan Mahasiswa UI Peduli Perbatasan," ujar Ade bersemangat pada merdeka.com, Jakarta, Minggu (10/11).
Bersama rekannya, Fitrianti dan Nike, Ade menemukan hal yang memilukan hati. Pendidikan belum merata di Indonesia. Ade mendapati SD yang diajarnya hanya didukung oleh tiga guru, padahal muridnya membludak. Tak hanya itu ketidakoptimalan tenaga pengajar dan kelas ini membuat anak kelas 3 SD rata-rata masih belum bisa membaca.
"Di SDN 06 Sungai Tembaga yang pada jumlah siswa sekitar 45 orang dengan jumlah guru sebanyak 3 orang. Siswa tersebut ada yang kelas 1-5 SD, sedangkan kelas 6 belum ada siswanya. Sekolah tersebut hanya ada 4 buah kelas di mana kelas 2 ,3 dan kelas 5 hanya dipisahkan dengan sekat kayu. Siswa kelas 1-3 SD yang belum pandai membaca dan berhitung sehingga kami menyempatkan untuk belajar tambahan bersama," ungkapnya.
Namun jangan salah, letupan semangat justru datang dari anak-anak buruh perkebunan sawit. Meski dalam kondisi yang amat terbatas, nyatanya semangat anak-anak ini melampaui batas.
"Saya bisa melihat semangat besar mereka untuk belajar dan bermimpi tentang cita-cita mereka kelak. Anak-anak di sana hebatnya berani berpendapat bahkan kerap kali berebut untuk menjawab soal ataupun maju ke depan kelas," ceritanya senang.
Bukan hal mudah bagi Ade dan kawan-kawan menjalani misi mulia ini, ketika banyak orang membelanjakan uangnya untuk liburan, Ade justru rela menabung dan merogoh jutaan rupiah untuk memberikan pelita ilmu bagi anak-anak perbatasan. Ditambah perjuangan baik sebelum maupun saat berada di sana, sangat menempa fisik dan mentalnya.
"Akses transportasi yang sulit, kondisi jalan yang rusak, gempuran produk dari negeri Malaysia, dualisme kewarganegaraan, harga-harga barang kebutuhan yang mahal, pelayanan kesehatan yang kurang memadai, hingga akses pendidikan yang sangat terbatas menjadi potret kehidupan saudara kita di sana," lanjut mahasiswa angkatan 2008 ini.
Perjalanan mulia ini tidak sampai di sini, sadar tugasnya sebagai agent of change, Ade dan kawan-kawan berkomitmen akan terus menyebarkan ilmu mereka ke banyak daerah perbatasan lainnya.
http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-pejuang-pendidikan-di-wilayah-perbatasan.html
http://www.merdeka.com/peristiwa/fitri-pejuang-di-tapal-batas-kartini-masa-kini-4.html
_____________________
Fitri dan Ade adalah satu dari sedikit orang yang 'aneh'
pasalnya, ketika semua orang mengumpulkan pundi-pundi uang untuk berpergian ke tempat wisata yang memikat (termasuk saya). Mereka malah pergi ke perbatasan untuk membagi ilmu mereka.
Idealisme itu menjadi kunci bagi para pemudi ini menerobos beratnya medan. Apalagi mereka wanita, tentunya kejahatan rentan terjadi pada mereka, tapi memang dasar siapa yang bisa menentang niat baik seseorang yang diberkati Tuhan :)
Saya menemukan orang ini ketika dipaksa menulis tematik Kartini, ketika semua orang lain berbicara mengenai kehidupan sosã…‘al masing-masing wanita. Saya malahan gembar gemborkan soal pendidikan. Mungkin setelah bekerja pun sedikit idealisme saya tentang pendidikan masih ada. Apalagi di kampus saya termasuk orang yang menjunjung persamaan, seperti hak untuk pendidikan.
Menemukan orang yang beridealisme di kampus UI tidaklah sulit, mereka yang beridealisme cenderung banyak kawan dan rendah hati jadi saya tidak sukar menemukan mereka. Begitupun ketika saya bicara dengan Fitri via telepon, mungkin bicaranya datar tapi bisa buat Anda bergetar.
Dan dalam sekejap langsung merasa bersalah karena tak bisa melakukan hal mulia seperti mereka. Lalu apakah saya sudah bermanfaat untuk orang lain???
Mereka mengajarkan kita hidup bukan soal harta dan ilmu yang tinggi tapi bagimana keduanya kita manfaatkan bagi saudara kita yang kurang beruntung. Maksimalkan peran Anda dalam membangun Indonesia, begitupun saya akan terus berusaha mewartakan berita yang bermanfaat bagi masyarakat. Amin
Sabtu, 03 November 2012
Menasionalismekan atau men-korea-kan suku cia cia
![]() |
| Penggunan Huruf Hangeul |
Bukan Korean Wave atau Hallyu yang membuat suku ini menggunakan huruf Hangeul sebagai tulisan kesehariannya. Namun suku Cia-cia yang berada di Kepulauan Buton, Baubau, Sulawesi Tenggara ini memang telah lama menggunakan tulisan Korea atau Hangeul ketika mereka menulis dan membaca.
"Baubau itu ada banyak bahasa di dalamnya termasuk bahasa Cia-cia yang dipakai rumpun masyarakat Cia-cia. Cia-cia itu tidak punya alfabet kalau dia menggunakan alfabet lain itu bisa pemaknaan beda. Kami gunakan hangeul bisa tetap mengerti," kata Wali Kota Baubau Amirul Tamim kepada merdeka.com selepas diskusi persiapan Festival Keraton Nusantara, Jakarta, Sabtu (11/8).
Amirul menambahkan, belum jelas apakah ada kedekatan historis antara suku Cia-cia dan Korea, namun menurutnya memang masyarakat Cia-cia yang berbahasa Indonesia menulis dengan Hangeul ini dulunya adalah seorang perantau. Sehingga mungkin saja pengaruh bahasa datang dari hasil pembelajaran mereka di tanah perantauan.
"Karena masyarakat Cia-cia itu masyarakat perantau, belum kami tahu ada kedekatan historis tapi kebanyakan pengaruh Cia-cia dari Mongol dan China yang dekat dengan rumpun dekat-dekat Korea. Tapi keseharian pakai bahasa Indonesia kok," tegasnya.
Meski demikian justru pemerintah tak akan pernah menghapus budaya tulisan Hangeul ini, bahkan dia berjanji akan memelihara kebudayaan tulisan ini. Apalagi selama ini pemerintah tetap memberikan pelajaran bahasa Indonesia dan tidak ada masalah dalam komunikasi.
"Kami ingin menyelamatkan bahasa lokal yang kemungkinan punah. Komunikasi tidak terganggu, apalagi tulisan Latin jadi pelajaran keseharian untuk pelajaran huruf. Kami harus akui kebudayaan kami kuat," ujar dia.
http://www.merdeka.com/peristiwa/suku-di-indonesia-ini-menggunakan-tulisan-korea.html
-----------------------------
Berita ini dibuat tanpa sengaja, saat itu Buton menjadi tuan rumah dari festival keraton nusantara. bukan acara yang saat itu terpikir untuk dijadikan berita, tapi jiwa nasionalisme terpanggil ketika terdengar Bau-bau yang merupakan bagian Buton ikut disebut.
Pasalnya, ini menyinggung sedikit rasa nasionalisme saya. Persoalan pemakaian tulisan Korea berbahasa Indonesia di suku cia-cia, Buton buka barang baru bagi saya yang notabenenya dari sastra korea UI. Waktu itu di salah acara Korea, rakyat Cia Cia, bau-bau ikut nimbrung dalam satu acara bikinan pemerintah korea.
Mereka, orang korea amat bangga tulisan mereka dipakai oleh orang Indonesia bahkan ikut menjadi budaya minor indonesia. Kalau Anda tanya pendapat saya, justru ini melukai rasa nasionalisme saya. Bukannya saya tidak mengakui itu menjadi salah satu budaya Indonesia, tapi yang saya tahu Indonesia itu bahasanya ya Indonesia.sekali lagi bukan mengingkari keberadaan bahasa yang telah berakar ini.
Parahnya lagi, pemerintah Korea yang tahu ini merupakan peluang untuk menyebarkan budaya mereka langsung tancap gas memasukan banyak tenaga pengajar ke suku ini, termasuk beberapa rekan saya. Hasilnya tentu saja rakyat cia cia lebih 'kemasukan' dan condong pada budaya dan bahasa Korea. Lalu bagaimana dengan kita?
Ketika ditanyakan itu, si gubernur bilang bahwa mereka tetap belajar bahasa Indonesia. Tapi Anda tahu... saya tidak percaya. Dengan mimik dan nada suara tidak suka si gubernur menjelaskan bahwa tulisan korea yang dipakai rakyat cia cia itu bagian dari budaya Indonesia.
Dari situ saya tahu Korea tidak mencampuri soal pendidikan saja, entahlah....saya belum punya bukti kuat tapi saya rasa saya punya feeling yang kuat bahwa pemda tidak menyaring sama sekali pengaruh Korea ke Cia-cia dan itu pastinya akan menyebabkan nasionalisme luntur.
Satu lagi yang saya sesalkan, meski berita ini menjadi acuan dari media lainnya untuk mengupas tentang Cia-cia seperti metro dan tempo tapi saya sebagai orang yang pertama kali mengupasnya secara terbuka malah tidak diberi ruang untuk mengeksplore-nya lagi. Padahal berita ini pun nomor satu selama hampir seharian di tempat saya bekerja.
Entahlah saya harap angin segera bawa saya ke sana, supaya saya tahu sebenarnya sudah sampai mana tangan-tangan penjajah itu memasuki pikiran rakyat cia-cia. Sekali lagi saya hanya bisa berdoa!!
-----
Lama sudah saya tidak mendengar perkembangan Cia-cia berikut dengan Hnageulnya. Sampai suatu kali di seminar lingusitik, saya menghampiri seorang profesor dari Prancis dan hendak berbicara mengenai Cia-cia yang sudah bercampur dengan budaya Korea.
Ternyata bukan barang baru baginya, bahkan dia mengaku tidak mau berurusan dengan percampuran budaya Cia-cia dengan Korea. Kenapa? dan ups dia keceplosan bilang kalau ada intervensi politik dan ekonomi dalam percampuran budaya itu. Dia langsung menyodorkan seorang peneliti bahasa dari Cia-cia.
Sebentar mengobrol ternyata peneliti tersebut mengklaim telah terjadi sabotase budaya oleh Korea. Ternyata semua yang dikatakan gubernur itu salah. Tak pernah ada sejarahnya Korea zaman dulu memengaruhi rakyat Cia-cia. Mereka, orang Korea telah memanipulasi seluruh berkas sejarah orang Cia-Cia demi sepetak tambang bernilai jutaan dolar. Celakanya itu sudah terjadi belasan tahun. Coba tebak, tak satupun dari pemerintah yang peka soal ini.
Peneliti juga mengaku sudah mempunyai bukti yang telah mendekati verifikasi untuk membuktikan kebohongan yang dilakukan Korea. Salah satu dosen saya di Laiden bahkan pernah menulis soal masalah itu dan dia mempunyai beberapa paper yang merujuk tak pernah ada sejarah Korea mencapuri kebudayaan suku Cia-Cia. Miris.
Langganan:
Postingan (Atom)









