Jumat, 06 Juni 2014

ANALISIS PRONOMINA KUASA DAN SOLIDARITAS DALAM PIDATO ANIS MATTA




Abstract
This research aims to describe power and solidarity of language use in politic statement President PKS, Anis Matta. It used specific linguistic way of analyzing Anis’s utterance published on video. The result shows that Anis Matta used solidarity pronouns more often than pronouns which reflect his power as president. These solidarity pronouns are chosen by Anis for motivate member of party dan reclaim their consolidation together.
Keywords : power, solidarity, Anis Matta, PKS
1
        Pendahuluan 

Permasalahan terus menerus mengguncang Partai Keadilan Sejahtera, terlebih sejak ditetapkannya Presiden PKS sebagai tersangka suap daging impor beberapa bulan lalu. Seperti bola salju yang kian membesar, masalah partai dakwah ini kian pelik ketika PKS juga dituding menerima aliran uang haram dari si makelar proyek, Fathanah. Hal tersebut diperparah dengan solidaritas dan konsolidasi PKS yang mulai melemah. Posisi PKS kini diujung tanduk, sudah pasti kepercayaan sebagai partai bersih luntur dan elektabilitas partai ini semakin suram. Apalagi sudah menjadi rahasia umum, kalau partai ini sudah pecah kongsi di dalam partai sejak partai ini berkoalisi dengan Demokrat dan masuk pemerintahan.
Langkah pertama yang dilakukan PKS untuk membedung dan menguatkan intern partai adalah menunjuk Anis Matta sebagai pengganti presiden sebelumnya, Lutfi Hasan Ishaq.  Anis Matta dipilih lantaran pengabdiannya sejak PKS berdiri 15 tahun lalu. Selain itu lelaki yang pandai berorator ini juga dinilai sebagai kaum tengah yang mampu menyatukan kembali dua kubu Sejahtera dan Keadilan di internal partai. Kepercayaan partai kepada Anis Matta kemudian ditunjukan Anis dalam pidato perdananya di hadapan petinggi dan kader partai.
Rupanya Anis sadar, sebagai Presiden baru, bukan saatnya lagi mempertontonkan dan mendominasi dengan kuasa. Tapi melalui strategi komunikasi, Anis menggunakan banyak aspek bahasa solidaritas yang sama sekali tidak mengurangi derajatnya sebagai presiden partai. Dalam penelitian ini akan dipaparkan aspek kebahasaan terutama pronomina sebagai petunjuk pertama yang dipakai Anis yang menunjukan kuasa sekaligus solidaritas. Sebab pronomina dibandingkan dengan aspek bahasa lainnya seperti kata kerja, menjadi salah satu acuan pertama yang digunakan para linguis seperti Hudson dan Johnstone untuk mengidentifikasi seberapa besar kuasa dan solidaritas antara satu orang dengan orang yang lainnya.  Termasuk  pronomina apa yang dipilih Anis dalam pidato politiknya. Anis diketahui menyebut berbagai kata ganti untuk setiap orang yang berbeda namun di satu sisi Anis juga menyebut kata ganti tertentu secara terus menerus yang berkaitan dengan konteks serta tujuan Presiden PKS ini. Terlebih pemilihan pronomina oleh Anis Matta amat menentukan tingkat solidaritas dan kuasa Anis terhadap para pendengarnya. Anis tentunya punya alasan tertentu untuk memilih pronomina yang dia ketahui secara sadar punya sebab dan akibat terhadap situasi dan permasalahan yang dialami PKS saat ini. 

2.      Metodologi Penelitian
Untuk menganalisis pidato politik Anis Matta metode yang digunakan adalah metode kualitatif.  Lebih jelasnya, peneliti mencoba membedah tuturan yang ada di dalam pidato Anis Matta. Baik dari segi pronomina dan konteks yang keduanya saling berkait dalam membangun unsur kuasa dan solidaritas terhadap lawan bicaranya. Sama halnya dengan penulis teks, Anis punya kuasa untuk mempengaruhi pendengar, dia juga hadir untuk memutuskan bagaimana dia menyampaikan pesan atau wacana kepada pendengar atau penonton. Sebaliknya pembaca dan penonton diberi pilihan untuk mengartikan pesan yang disampaikan pembicara atau penulis (Johnstone, 2002: 111).
Dalam hubungan sosial setiap individu bisa berganti peran dan kuasa untuk membentuk wacana. Lagi-lagi bergantung dimana, kapan dan kepada siapa dia berbicara. Perbedaan posisi, jabatan, umur, kondisi, situasi dan lainnya menyebabkan ada jarak antara si penutur dan penerima. Jarak atau posisi tertinggi bisa dicapai ketika dia mampu mengendalikan dan membuat wacana serta mempengaruhi pendengarnya. Dalam hal ini orang tersebut dikatakan sebagai orang yang punya kuasa.
 Namun poweratau kuasa bersifat tidak tetap, kaku dan bisa dinegosiasikan (Johnstone, 2002: 113). Hal ini terjadi lantaran kuasa tidak bersifat dominan dan mensyaratkan pengikutnya ikut berkontribusi. Untuk bisa membentuk situasi seperti ini yang diperlukan adalah aspek solidaritas, dengan aspek ini, pengikut bisa leluasa berinteraksi tanpa tekanan untuk memperoleh tujuan si penguasa atau orang-orang yang berada di komunitas tersebut. Aspek solidaritas banyak ditemukan dalam berbagai interaksi sosial termasuk antara atasan dan bawahan atau tingkatan hierarki lainnya.
 Dibandingkan dengan solidaritas, kuasa lebih mudah diidentifikasi (Hudson, 1980: 122). Hudson dalam hal ini, memberikan contoh kata sapaan yang bisa menunjukan adanya kekuasaan dan solidaritas. Jika bawahan memanggil atasannya dengan nama Mr Brown maka kuasa masih berperan di dalamnya atau yang disebut dengan distant superior. Sebaliknya, jika bawahan tersebut dekat dengan atasan, kemudian memanggilnya dengan nama John (John Brown) maka aspek solidaritas bermain di dalamnya atau yang disebut dengan close superior.
Menurut Hudson berlakunya distant superiordan close superior ini juga bergantung dari kedekatan, pengetahuan serta norma yang berlaku di dalam masyarakat. Selain itu, Hudson juga menyertakan sejarah sebagai pembawa pengaruh bagi prototipe manusia (Hudson, 1980: 124).  Pergeseran sejarah dari sejarah otoriter ke demokrasi mereduksi aspek kuasa dalam tindak berbahasa. Sebagai contoh, anak-anak perancis memanggil ayahnya sebagai tu bukan lagu vous. Tu dan vous (you) merupakan panggilan untuk seseorang yang lebih tinggi posisinya. Namun tu bersifat close subordinate sedangkan vous bersifat distant superior. Semakin tinggi pembicara memposisikan dirinya maka semakin tinggi juga tembok yang dibuatnya pada pendengar. Ini dilakukan oleh si pembicara agar dia bisa melindungi privasinya Oleh karena itu perlu dilihat bagaimana si pembicara memposisikan dirinya dalam dunia sosialnya (Hudson, 1980; 127-128).
Sumber data dari youtube merupakan salah satu acuan untuk mengetahui situasi serta keadaan saat pidato politik Anis Mata berlangsung yang menyebabkan unsur-unsur solidaritas dan kuasa muncul. Kemudian juga peristiwa dan permasalahan dalam PKS atau konteks PKS saat itu menjadi unsur yang memperkuat bagaimana Anis menciptakan kuasa dan solidaritasnya pada pidato politik saat itu. Di partai ini, sebelumnya Anis Matta menduduki jabatan sebagai Sekjen selama 4 periode berturut-turut atau sejak partai ini berdiri. Bukan tanpa alasan para petinggi PKS menunjuk Anis, menurut politisi PKS, Refrizal, mereka ingin agar Anis tampil membawa elektabilitas partai naik, menyatukan partai serta menjadi harapan baru bagi PKS (Billiocta, 2013).
Rekaman yang diunggah oleh Media Islam ke youtube dan berdurasi selama 11 menit 53 detik, bisa dibilang merupakan upaya antisipasi dan wujud pembelaan Anis Matta terhadap gejolak yang terjadi di dalam partai. Apalagi video ini juga diunggah beberapa saat setelah Anis Matta diangkat menjadi Presiden PKS kemudian menyampaikan pidatonya pada publik di tanggal 1 Februari tahun 2013.
Meski permasalahan pidato Anis ada di dalam wacana politik yang amat luas, penelitian ini akan dipersempit dengan mengacu pada tindak tuturan. Tindak tuturan yaitu Pertuturan adalah seluruh komponen bahasa dan non bahasa yang meliputi perbuatan bahasa yang utuh, yang menyangkut peserta dalam percakapan, bentuk penyampaian amanat, topik dan konteks amanat itu (Kushartati, 2007 : 109). Kemudian dari tindak tuturan tersebut, pemakaian pronomina oleh Anis dijadikan fokus untuk melihat unsur kuasa dan solidaritas yang berhubungan dengan konteks ideologi dan permasalah di dalam partai. 
  
3.      Analisis
Bahasa Indonesia pada dasarnya bersifat lebih fleksibel dan terbuka dari bahasa lainnya. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh sifat dan keberagaman sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat. Sehingga tak heran, tingkatan hierarki dan kesopanan dalam bahasa Indonesia lebih sederhana dibandingkan dengan bahasa Korea atau bahasa Jawa yang merupakan bahasa salah suku di Indonesia. Sebagai contoh, di dalam aspek gramatikal bahasa, tidak ada perubahan yang banyak dan signifikan ketika orang mengatakan kata “makan” ketika berbicara kepada orang yang punya kekuasaan. Lain halnya dengan korea yang punya dua kata untuk makan yaitu “deusida” dan “moekta”dua kata ini dipakai sesuai dengan kepada siapa si pembicara mengatakannya. Namun diketahui juga, Indonesia juga mengenal kata dan kalimat baku dan tidak baku sebagai salah satu indikator tingkat kuasa dan solidaritas. Seperti, contoh kalimat baku ‘saya sedang menulis’ dengan kalimat tidak baku ‘saya lagi nulis’. Tentunya kalimat tidak baku lebih sering digunakan dalam kalimat lisan bukan kaliat tulisan.
Untuk menentukan ada tidaknya kuasa biasanya para peneliti bahasa melihat dari unsur pronomina atau kata ganti seperti yang Johnstone dan Hudson lakukan. Merujuk dari teori keduanya maka hal pertama untuk menganalisis pidato Anis matta adalah melalui pemakaian pronomina yang digunakan Anis dalam tuturannya.

            3.1  Analisis Pronomina
Dalam pidato perdana Anis Matta, Presiden PKS ini menggunakan kata ganti pertama dengan “saya”, memakai kata ganti Lutfi Hasan Ishak, Presiden PKS sebelumnya, dengan sebutan “beliau” dan “dia”. Sedangkan untuk para pendengarnya yang dia tujukan ke kader-kader PKS dipanggil dengan “rekan-rekan”, “ihwan”, “saudara-saudara” dan “antum” .
Untuk menyampaikan pesan, instruksi dan argumennya, Anis menggunakan kata “kita” yang menitikberatkan pada kebersamaan dan solidaritas. Seperti pada kalimat-kalimat di bawah ini.
a.  “Ini bukan hari yang mudah untuk kita lalui. Tapi kita pasti bisa melaluinya, Insya Allah. Asal kita tahu tiga syarat, yang pertama memohon pertolongan Allah SWT.  Syarat yang kedua ikhwan sekalian adalah kebersamaan kita semua. Ukhuwah persaudaran dan soliditas itu yang harus kita jaga. "Dia-lah Allah yang menguatkanmu semua dengan orang-orang beriman".
b.  Kita bisa melalui ini bisa saling bergandengan tangan dan bersatu atas dasar cinta kepada Allah SWT.,”
            Tuturan yang ditampilkan Anis dengan memakai strategi penggunaan pronominal menunjukan sisi positif Anis Matta sebagai Presiden PKS baru saat itu. Dengan menggunakan pronomina “kita”, Anis ingin menunjukan adanya kebersamaan dan solidaritas meskipun sebenarnya Anis punya kekuasaan untuk memerintah sebagai Presiden PKS dengan menggantinya menjadi kata ganti “kalian” atau “Anda”. Apa yang dilakukan Anis ini dianggap salah satu strategi solidaritas pemimpin, bagi beberapa ahli linguistik seperti R. Brown dan A. Gilman dalam kenyataannya solidaritas memang lebih sering dilakukan oleh pemimpin daripada bawahan atau yang lebih tua daripada orang yang lebih muda (191 : 1960).  Seperti yang Johnstone sebelumnya, salah satu faktor yang membuat para pemegang kuasa menurunkan tingkat kuasanya sebab mereka menginginkan pendengarnya ikut berkontribusi bahkan mengikuti apa yang diinstruksikan si penguasa (Johnstone, 2002: 113). Bahkan serendah apapun Anis menempatkan dirinya dalam memakai pronominya publik akan tetap merasa simpatik karena cara dan bentuk seperti ini membuat publik berpikir bahwa Anis mampu merangkul semua kader yang berada di dalam partai.  
            Seperti yang kita tahu, bahwa kondisi PKS saat ini terpecah menjadi dua yaitu kubu sejahtera dan kubu keadilan.  Kubu sejahtera adalah kubu yang kader-kader duduk di  tampuk kursi pemerintahan sedangkan kubu keadilam terdiri dari para tetua partai yang berada di luar kekuasaan. Anis muncul mewakili dua kubu tersebut karena Anis merupakan orang lama partai yang ikut di dalam pemerintahan (sebelumnya Wakil Ketua DPR). ( Billiocta ; 2013). Oleh karena itu diciptakannnya hubungan solidaritas Anis dengan pendengarnya atau yang disebut dengan istilah distant close melalui kata ganti “kita” bukanlah hal yang tidak disenganja. Sebab apapun yang pronomina yang dipilih oleh si pembicara menunjukan hubungannya dengan pembicara (G. Brown, 1960: 277). Pemilihan pronomina ini bertujuan agar semua kader dan simpatisan baik dari kubu sejahtera dan keadilan ikut berperan dalam menguatkan intern partai serta secara bersama-sama berusaha menaikan elektabilitas partai yang merosot karena kasus korupsi. Intensitas Anis menyebutkan pronomina ini dalam pidatonya juga merupakan salah hal yang dilakukan Anis secara sengaja. Tentunya sebagai usaha persuasif dengan menonjolkan solidaritas untuk menggalang kesatuan partai.
            Selain menunjukan solidaritas, di sisi lain Anis juga menampilkan distant superior. Pertama dia menyebut dirinya kepada para pemimpin PKS dan Ketua Dewan Syuro dengan “saya”. Begitu juga saat dia menyebut Presiden PKS sebelumnya yaitu Lutfi Hasan Ishak dengan kata ganti “beliau” dan “dia”.
a.                   Para pimpinan PKS khususnya yang saya hormati dan saya cintai,  Hilmi Aminudin sebagai Ketua  Majelis Syuro
b.                   Sayajuga ingin mengucapkan penghargaan sedalam-dalamnya terhadap Lutfi Hasan Ishak. kalau dia menonton acara ini saya ingin mengatakan saya mencintainya dan seluruh kader PKS mencintai beliau. Kita percaya pada integritas beliau.
Anis juga cenderung tidak konsisten dalam menyebut para pendengarnya yang dia tujukan kepada kader-kader PKS. Terkadang dia memanggil dengan sebutan “antum” ; “rekan-rekan sekalian” ; “ihwan sekalian”  ; “saudara-saudaraku semuanya,”. Penyebutan kata ganti ini oleh anak memang sebagian besar merujuk pada rasa solidaritas bukan menonjolkan kuasa yang dimiliki Anis.
a.       Kepada antum semuanya, hari ini berlaku ayat Allah
b.      Rekan-rekansekalian, ini adalah tugas besar yang harus saya emban bersama pengurus PKS      
c.       Tetapi ikhwan sekalian sperti yang kita katakan tadi , kalau kita ingin melakukan perubahan hakiki kita musti berubah dari diri sendiri.
d.      Tidak ada lagi waktu tidur saudara-saudara sekalian

Untuk diketahui “antum” adalah kata ganti persona kedua jamak netral yang berarti kalian. Sedangkan “ikhwan”  adalah kata ganti persona kedua dan bentuk jamak dari akhi (saudara laki-laki) (Attaya : 2009).
Selain sebutan tersebut, Anis juga beberapa kali menyebut pendengarnya dengan “kader-kader PKS” kepada para pendengarnya. Kader dalam KBBI berarti orang yang diharapkan untuk memegang peranan penting di partai. Dengan kata lain kader merupakan kata lain dari bawahan. Dalam menyebutkan ini, Anis menggunakan juga kuasanya sebagai atasan dari para kader PKS.  Meskipun dalam pidato tersebut hadir pula para pimpinan tertinggi lainnya seperti Ketua Majelis Syuro, Hilmi Aminudin.
a.       Saya ingin mengatakan saya mencintainya dan seluruh kader PKS  mencintai beliau
b.      Saya ingin mengatakan kepada antumsemuanya dan kepada kader PKS yang menonton acara ini.
3.1.1 Ideologi dalam pronomina
Semantik solidaritas berkembang sejalan dengan mobilitas sosial dan persamaan ideologi (G. Brown, 1960: 193). Seperti contoh yang diberikan Hudson dalam perubahan pronomina yang digunakan oleh myoritas masyarakat perancis, yaitu berubahnya vous (kamu) menjadi tu. Arus demokrasi dan perubahan masyarakat pasca gerakan revolusi Perancis membuat hubungan yang tadinya bersifat distant superior menjadi close superior dengan pemakaian kata ganti tu (Hudson, 1980; 124).
Hal yang serupa juga terjadi dalam pronomina-pronomina yang dipilih oleh Anis Matta , yaitu
a.       Syarat yang kedua, ihwan sekalian, adalah kebersamaan kita semua. ukhuwan persaudaraan dna soliditas itu yang harus kita jaga.
b.      Yang ketiga adalah kerja keras hari ini saya ingin mengatakan kepada antum semuanya dan kepada kader pks yang menonton acara ini. Saudara-saudaraku semuanya, kepada antum semuanya, hari ini berlaku ayat Allah.
Sebutan “ihwan” dan “antum” menjadi pertanda ideologi PKS sebagai partai Islam. Namun berbeda dari saat partai ini dibangun, PKS sekarang dinilai pengamat politik, Asep Saefulah, PKS telah bertranformasi menjadi partai yang cenderung lebih moderat sehingga pergeseran ideologi dan bermunculannya faksi-faksi terjadi (Endang, 2013). Sebagai orang tengah, Anis cukup bijaksana memilih kata ganti untuk kader dan para pemimpinnya. Anis menggunakan kata ganti “ihwan” untuk seluruh kader laki-laki PKS yang beragama Islam, baik kader yang berada di dalam posisi di bawah atau di atas Presiden PKS ini. Sebutan “ihwan” ini sebenarnya digunakan antar laki-laki yang sama posisinya. Penggunaan kata “ihwan” tersebut tentunya mencerminkan solidaritas atau ukhuwah Islam di dalam PKS.  Selain itu, beberapa ungkapan arab juga semakin menujukan identitas partai Islam tersebut.
 Tetapi Anis juga menggunakan power-nya dan ideologi patrialis Islam dalam memakai kata ganti “ihwan”. Meski di satu pihak dinilai sebagai penyamarataan karena sebutan itu perlambang persamaan dan ukhuwah antara lelakui namun bisa juga dianggap diskriminasi karena “ihwan” hanya menunjukan pesan yang disampaikan hanya untuk kader PKS lelaki bukan kader perempuan. Sebab ihwan adalah kata ganti kedua laki-laki yang berarti teman atau saudara (KBBI).  
Hal ini juga mengukuhkan bahwa Anis memang merupakan orang yang telah lama berada di partai yang semula amat menjaga idealismenya sebagai partai islam yang hampir tidak pernah membolehkan adanya kader wanita untuk terjun langsung berpartisipasi untuk partai. Namun setelah keputusan KPU untuk keikutsertaan 30% perempuan dalam partai serta semakin banyaknya kaum nasionalis masuk ke dalam partai PKS pada akhirnya memang bergeser menjadi partai yang sedikit nasionalis tanpa mau melepaskan predikat sebagai partai dakwah.
3.2 Efek Pronomina yang Anis gunakan terhadap pendengarnya
            Dengan pemilihan kata, ekspresi dan suasana di DPP PKS membuat pidato perdana Anis menjadi amat emosional. Bahkan jika dicermati dalam video youtube ini suara Anis sempat beberapa kali bergetar. Hadirin yang mendengarkanpun terkesima. Diantara mereka satu dua orang tampak terharu dan menangis. Di sini Anis berhasil menyampaikan pesan kepada pendengarnya, sebab memang wacana terjadi bukan hanya terkait soal pesan dari si penutur ke penerima. Melainkan bisa saja terjadi spesifik ilokusi yang berhubungan dengan pesan tersebut, bahkan menciptakan konteks baru (Renkema, 2004 : 41&45). Konteks-konteks ini bisa terbentuk lewat tiga hal, seperti yang Halliday dan Hassan samapaikan dalam buku Renkema, tiga hal tersebut adalah field, tenor dan mode. Di pidato ini unsur tenor terlihat lebih dominan dan punya peran yang besar dibanding lainnya. Aspek tenor yang menitikberatkan pada peran dan status partisipan ini mengedepankan Anis sebagai pemain utama. Namun reaksi dari pendengar juga perlu diperhatikan, beberapa kali terdengar pekikan takbir di sela-sela pidato tersebut. Hal ini menandai bahwa pendengar mendukung apa yang dikatakan Anis Matta. Bahkan tak jarang mereka pun terpengaruh secara emosional. Contoh persetujuan itu antara lain,
a.       Saya juga ingin mengucapkan penghargaan sedalam-dalamnya kepada Lutfi Hasan Ishak (Allahuakbar). Kalau dia menonton acara ini saya ingin mengatakan saya mencintainya (Allahuakbar) dan seluruh pimpinan, seluruh pengurus, dan seluruh kader PKS mencintai beliau(Allahuakbar).
b.      Tidak ada lagi waktu tidur Saudara-saudara sekalian. Kita mulai hari ini sebagai momentum kebangkitan kita semuanya (Allahuakbar).
            Konteks konsolidasi dan pembenahan menjadi salah satu wacana yang diinginkan Anis. Melalui kuasanya di atas mimbar Anis menginstruksikan agar seluruh elemen partai bersatu dan bekerja keras membangun partai kembali partai. Itu juga menjadi salah satu faktor seringnya Anis menggunakan sebutan “kita” dibandingkan “saya”. Seperti pada kalimat berikut
a.       Kita bisa melalui ini kalau kita bisa saling bergandengan tangan, kalau kitasaling bersatu , kalau kitamenyatukan diri kita semuanya atas nama cinta kepada Allah swt dan cinta kepada negeri kita, Indonesia.
b.      Ihwan sekalian setelah kita selesai membenahi diri sendiri, membenahi diri kita semuanya, hati, pikiran dan perilaku dan membenahi seluruh sistem kita ini, kita Insya Allah melakukan pembenahan lebih jauh lagi pada negara.
Meski sampai saat ini belum terlihat benar efek dari pidato politik tersebut. Namun dari pengamatan yang dilakukan, agenda merapatkan barisan ini tengah gencar dilakukan PKS baik di sosial media dan spanduk-spanduk yang berjejer di jalanan.


4.      Kesimpulan
            Dalam pengungkapan bahasa itu ada tindakan atau maksud yang menyertai ujaran tersebut atau yang dimaksud dengan pertuturan ilokusioner (Kushartanti, 2003 : 109)> Begitu juga dengan tuturan dalam wacana ekspresif Anis Matta yang mengedepankan unsur direktif dan asertif secara bersamaan . Meski Anis punya wewenang dan kuasa sebagai presiden PKS dalam melakukan unsur direktif atau unsur-unsur yang bertujuan untuk meminta tanggapan dari mitra tutur, pada kenyataanya Anis melakukan strategi lokusioner yang tidak biasa. Unsur-unsur direktif yang ditujukan kepada kader PKS dikemas Anis dalam satu pidato politik solidaritas.
            Hal itu terbukti dari sejumlah pronomina yang Anis ucapkan, Anis lebih banyak memakai pronomina “kita” bukan “saya” atau “kalian”. Meski beberapa kalimat jika ditelusuri itu bertujuan menyuruh dan memerintahkan namun dengan sebutan “kita” membuat kalimat tersebut menjadi samar. Bahkan kalimat suruhan tersebut justru mendapat reaksi positif dan dukungan seperti.
“Ikhwan sekalian, saya ingin mengumumkan juga agenda pertama kita melakukan pertaubatan nasional bagi seluruh pengurus dan kader-kader PKS. (Allahuakbar). Kita mulai dari Istigfar dan kita akan memulai dari taubat.”
            Selain itu beberapa pronomina juga mencerminkan ideologi PKS. Contohnya, penyebutan “antum” dan “ikhwan” yang ditujukan kepada pendengarnya. Walaupun ideologi yang bernafaskan Islam karena memakai sebutan dalam bahasa Arab ini juga dinilai sebagai tindakan diskriminasi terhadap wanita. Namun tetap saja ideologi tersebut tidak membuat kuasa berlebihan diantara posisi Anis sebagai Presiden PKS dengan kader dan pengurus partai. Anis juga menyebut pendengarnya dengan “kader PKS” yang tentunya merujuk pada posisi si pendengar, namun penggunaan ini tidak banyak terjadi.
            Penelitian ini menyimpulkan bahwa satuan terkecil seperti pronomina bisa mencerminkan solidaritas dan kuasa si pendengar dengan si pembicara. Selain itu juga penggunaan pronomina amat berkaitan dengan ideologi yang menjadi dasar mengapa pronomina itu terbentuk.  Dalam pidato Anis Matta,  Presiden PKS tersebut memposisikan dirinya sebagai orang yang sama dengan para kadernya. Pemilihan dan tindakan tuturan Anis juga dilatarbelakangi oleh kondisi PKS yang terpecah, Oleh sebab itu tidak ada pilihan lain selain Anis mensejajarkan kedudukannya dengan kader agar kader bersatu menyelesaikan permasalahan di dalam partai.

5.      Daftar Acuan
Attayaya. (2009). Attaya belajar : Antum,akhi, ukhti, ikhwan, akhwat.    
Juni , 2013.
Brown dan Gilman. 1960. The Pronouns of Power and Solidarity, hlm 76-253.
Diakses Juni 2013  
Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera.  (2013).Tentang PKS : Visi dan Misi.
Hudson. (1980).  Sociolinguistic. London : Cambridge University Press
Islam Media. (2013). Pidato Lengkap Perdana Presiden PKS Anis Matta.
Johnstone, Barbara. (2002). Discourse Analysis. Massachusetts: Blackwell Publisher
Kushartanti, Untung Yuwono dan Multamia RMT Lauder. (2007). Pesona Bahasa :
Langkah   Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Lensa Indonesia. (2013) PKS Bukan Partai Muslim Lagi ? Pengamat : Ini karena tuntutan
Merdeka.com. (2013). PKS : Anis Matta manusia ajaib yang kita punya
Renkema, Jan. (2004). Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins  
Publishing Company
6.      Lampiran
Assalamualaikum wr wb,.
Para pimpinan PKS khususnya yang saya hormati dan saya cintai, Hilmi Aminudin, sebagai Ketua Majelis Syuro dan saudara-saudarakusemuanya.
Saya pertama kali ingin mengucapkan penghargaan sedalam-dalamnya kepada Ketua Majelis Syuro yang telah mengambil keputusan yang sangat kilat dan cepat untuk merespon usulan dan permohonan pengunduran diri dari Presiden kita semuanya yaitu Lutfi Hasan Ishak. Saya juga ingin mengucapkan penghargaan sedalam-dalamnya kepada Lutfi Hasan Ishak (Allahuakbar). Kalau dia menonton acara ini saya ingin mengatakan saya mencintainya (Allahuakbar) dan seluruh pimpinan, seluruh pengurus, dan seluruh kader PKS mencintai beliau (Allahuakbar).
Kita percaya pada integritas beliau, kita sepenuhnya fitoh tapi yang dihadapi PKS hari ini adalah sebuah konspirasi besar yang bertujuan ingin menghancurkan partai dan menurut sayaperistiwa besar ini Insya Allah akan menjadi hentakan sejarah yang membangunkan macan tidur PKS (Allahuakbar). Saya yakin Allah SWT mengirimkan sebuah isyarat besar kepada kita semuanya, bahwa ini adalah momentum pembenahan diri sekaligus merupakan momentum kebangkitan PKS (Allahuakbar).
Rekan-rekan sekalian, tentu saja ini adalah tugas besar yang harus sayaemban bersama pengurus PKS.  Saya tahu ini bukan hari-hari yang mudah, yang akan kita lalui tapi kita pasti bisa melaluinya, insya Allah (Allahuakbar) (turunkan SBY) . Kitapasti bisa melalui hari-hari yang sulit ini, asalkan kita mengetahui syarat utama untuk melaluinya dan syarat utama melalui ini ada tiga.
Syaratyang pertama memohon pertolongan Allah subhanwataala. (Allahuakbar) Allahumayakanakbuduwa kanastain 7x (Amin). Syarat yang kedua ihwan sekalian adalah kebersamaan kita semuanya, ukhuwan persaudaraan dan  soliditas itu yang harus kita jaga karena Allah swt mengatakan "Dialah Allah yang menguatkanmu dengan pertolongannya dan dengan orang-orang beriman".
Kita bisa melalui ini kalau kita bisa saling bergandengan tangan, kalau kita saling bersatu , kalau kita menyatukan diri kita semuanya semuanya atas nama cinta kepada Allah swt dan cinta kepada negeri kita, Indonesia (Allahuakbar). Syarat ketiga, ikhwan sekalian, saudara-saudaraku sekalian, syarat ketiga adalah kerja keras hari ini sayaingin mengatakan kepada Antumsemuanya, kepada Saudara semuanya dan kepada seluruh kader PKS yang menonton acara ini. Saya ingin mengatakan ini kepada Antum semuanya hari ini berlaku ayat Allah SWT.
Saudara-saudaraku semuanya, kepada Antum semuanya, hari ini berlaku ayat Allah (Allahukbar).
"lambung mereka tidak bersahabat dengan tempat tidur”. Tidak ada lagi waktu tidur Saudara-saudara sekalian. Kita mulai hari ini sebagai momentum kebangkitan kita semuanya (Allahuakbar). Ikhwan sekalian, misi utama kita dalam periode kebangkitan ini adalah  mengubah cobaan dan musibah ini menjadi rahmat dan karunia (Allahuakbar) dan Insya Allah  kita pasti bisa melaluinya, kitapasti bisa melakukannya. karena  pada permulaaan mendirikan parai ini kitatahu jumlah kita sedikit, tenaga kita sedikit, orang-orang kita sedikit, tetapi melalui kerja keras Alhamdulillah Allah SWT  memberikan kesempatan untuk partai ini tumbuh dan terus menerus berkembang dan itu sebabnya saya percaya.
Insya Allah dengan kebersaman kita, tidak ada kekuataan di negeri dan di dunia ini yang bisa menghancurkan gerakan ini (Allahuakbar). tidak akan ada Insya Allah. Ihwan sekalian, sayatidak ingin Antum semua disini memahmai bahwa kita ingin melawan gerakan pemberantasan korupsi, sama sekali tidak! Itu agenda kita semua agenda Islam dan juga agenda nasional tapi yang akan kitalawan adalah pengguaan otoritas dalam proses pemberantasan korupsi yang bersifat tirani. Itu yang akan kitalawan. 
Pemberantasan korupsi adalah agenda kita bersama tapi ulama Fiqih kita mengatakan “hak dan cara penggunaan hak adalah dua hal hal yang berbeda" . Cara penggunaan hak itu berhubungan dengan hati maka Rasulullah bersabda mintalah fatwa ke dalam hatimu karena motif itu yang menentukan cara kita mengguanakan hak, dan motif tirani inilah yang akan kita lawan. Insya Allah. (Allahuakbar) Motif tirani dalam cara menggunakan hak inilah yang akan kita lawan tetapi Ikhwan sekalian seperti yang sayakatakan tadi  kalau kita ingin melakukan perubahan hakiki kita musti memulai dari diri sendiri. Kita pasti sebagai manusia biasa pasti banyak melakukan banyak kesalahan saya terutama kami dan saya pribadi dan termasuk pimpinan PKS pasti melakukan kesalahan, dan karena itu Ikhwan sekalian, saya ingin mengumumkan juga agenda pertama kita melakukan pertaubatan nasional bagi seluruh pengurus dan kader-kader PKS. (Allahuakbar).
Kita mulai dari Istigfar dan kita akan memulai dari taubat. Sebagaimana ucapan yang kita ucapkan ketika selesai solat. Apa yang kita ucapkan selesai melakukan solat? Astagfirullah.  Kita tentu sudah beramal tapi pasti banyak kekurangan sepanjang amal-amal itu dan Istigfar ini bukan hanya menghapus dosa-dosa tapi juga menyempurnakan kerja-kerja kita ke depan .
Ihwan sekalian, setelah kita selesai membenahi diri sendiri, membenahi diri kita semuanya, hati, pikiran dan perilaku dan membenahi seluruh sistem kita ini, kita Insya Allah melakukan pembenahan lebih jauh lagi pada negara. Oleh karena itu, Ihwan sekalian,  kita bisa melakukan perbaikan pada negara itu kalau kitamemulainya dengan cara yang benar dari sini kita akan memulainya. Kemarin kitamenyaksikan Saudara kita presiden kita, Lutfi Hasan Ishak dikeluarkan dari ruangan ini, dibawa dan dari ruangan ini kita akan memulai kerja besar baru untuk  membenahi diri kita dan sekaligus membenahi negara kita.
Saya yakin Insya Allah kita bisa, kita bisa kita bisa. (Allahuakbar) . Mudah-mudahan dengan kekuataan kita miliki kita akan melampaui hari-hari yang sulit ini dan kitapastinya akan berdoa agar Allah meletakkan berkah di balik coban ini, dan sekali lagi Insya Allah kita mulai melakukan langkah pertama nanti, kitaakan merancang acara untuk melakukan pertobatan nasional bagi seluruh pimpinan dan juga kader PKS. Selanjutnya karena sayasadar, bahwa saya akan melakukan tugas yang akan besar, saya tidak ingin dalam proses pelaksanaan tugas terganggu dengan hal-hal lain yang membuat tugas ini tidak tercapai. Saya ingin mengumumkan pengunduran diri dari wakil ketua DPRRI (Allahuakbar) dan mengundurkan diri dari keanggotaaan di DPR RI (Allahuakbar). Saya sudah memulai dan bersama dengan Antum semua kita berjalan bersama-sama membawa kafilah perubahan yanag hakiki bersama. 

Anis Matta

Selasa, 21 Januari 2014

Wisata fana ke Singapura

Tiga bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi Negeri Singa alias Singapura. Waktu itu perasaan saya benar-benar santai, padahal ini pertama kalinya saya ke luar negeri. Ya, sebabnya saya waktu itu sibuk kuliah dan kerja jadi saya baru sadar kalau saya mau ke luar negeri saat saya sudah berada di Changi Airport.

Di sana saya sudah berjanji dengan mantan teman kantor untuk bertemu dan tentunya bersedia menampung saya selama di Singapura. Tetapi saya cukup kesal di Changi karena antrean pemeriksaan paspor panjang dan wifi di Changi tidak jalan. Padahal saya pakai smartphone teranyar.
Dari sini saya sudah mempersiapkan diri agar jangan terlalu berharap di Singapura. Meski pun banyak yang bilang Singapura benar-benar negara yang membanggakan. Meski sempat cemas, akhirnya saya bertemu dengan si tuan rumah. Kami langsung cus dengan taksi ke asramanya di Green College di depan Botanical Garden. Saat itu tarif ke bandara sekitaran 200 ribu rupiah.



Saya bangun pagi dan mulai semangat untuk menjelejahi si Negeri Singa seorang diri. Sebab teman saya sibuk dengan tugasnya. Waktu itu teman saya super khawatir dan banyak berpesan soal ini dan itu. Hm dia belum tahu kalau saya terbiasa traveling sendiri

Hari pertama

Tujuan pertama saya langsung Merlion Park. Saya sempat nyasar di Raffles dan di mal dekat situ. Saya juga tidak suka wisata mal, maklum saya cuma orang pinggiran. Di Mal itu saya untuk pertama kalinya melihat kakek sekitar 50 tahunan membersihkan toilet. Saya terenyuh sampai saya segan buang air di situ. Saya semakin tidak mau buang air karena toiletnya jorok juga. Aduh ini ya Singapura yang terkenal bersih itu. Oh ya sebelumnya saya ke toilet di stasiun MRT kondisinya sama juga. Duh mengecewakan.

Kemudian saya semakin kesal karena mal di Rafless itu sepertinya panjang dan tak berujung. Akhirnya saya memutuskan untuk kabur lewat tangga darurat. Ups ketika keluar CCTV sudah 'memelototin' saya. Hahaha. Untuk diketahui Singapura rajanya CCTV kalau menurut Faucolt Singapura mencoba mengendalikan perilaku warganya dengan CCTV tersebut.

Saya pikir habis itu saya ditangkap satpol PP hehe. Setelah putar sana putar sini saya akhirnya menemukan stadion dan jreng!! di sampingnya ada si Singa putih. Ugh ramai benar, padahal baru jam 9 pagi.

Saya tidak kesulitan minta foto di sana karena banyak orang Indonesia hahaha. Yang paling saya suka, mungkin satu-satunya adalah es potong Merlion harganya 1 dolar dan wih! nikmat benar.


Merlion Park



Merlion Park

Dari Merlion, saya langsung lari ke Garden By The Bay yang pintu masuknya juga di dalam mal. Stress! lagi-lagi yang melihat banyak orang tua jadi cleaning service di sana, tragis!

Saya pernah bertanya pada teman saya soal masalah yang satu ini. Menurut dia, meski telah dijamin tetapi kebutuhan hidup kian mendesak dan tidak ada jaminan untuk orang tua atau terbatas.

Lagi lagi saya tudak terlalu terpukau dengan taman yang satu ini. Alasannya simpel sesuatu yang dibuat rasanya tidak sampai ke hati. Saya melongok sebentar dan langsung pergi ke Sentosa Island yang bikin penasaran.
Garden by The Bay
Di Sentosa Island seperti tempat ekslusif dengan tiket dan kendaraan tertentu. Setiap di MRT saya selalu lihat orang lebih gemar berdiri dibandingkan duduk. Yang paling parah jarang saya dengar mereka berbincang dengan manusia. Mereka lebih suka tertawa dengan iphone-nya. Duh tragis banget sih negara ini.

Karena dimana mana bayar saya memutuskan naik mobil keliling yang gratis. Saya sempat dibuat nyengir sendiri gara-gara saya baca papan peringatan di sana dan juga orang-orang di Singapura yang bahasa Inggrisnya kelewatan aneh. ya mereka menggunakan struktur bahasa Cina yang dimasukkan ke dalam bahasa Inggris. Jadinya gitu. wkwkwk

Saya ke pantai Siloso di Sentosa Island. Saya dibuat terperanjat dengan banyaknya tukang sapu di sana. Mungkin maksud hati mau jadi negara terbersih tapi enggak sampai segitunya juga sih hahaha. Di pantai banyak anak muda berjemur dan berenang mereka senang sekali. Mungkin jarang pantai di sini, dalam hati saya bergumam "dia enggak tahu secantik apa pantai di Indonesia".

Pantai Siloso


Lagi-lagi ini tidak membuat saya terpikat dalam pikiran saya, ini cuma keindahan buatan tangan. Apalagi dengan ada kapa kapal besar yang jaraknya kurang dari 1 km, bikin tambah perasaan aneh.

Ah sudahlah akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan saya hari ini. Saya sempat duduk di bangku MRT yang saya pikir kosong tetapi orang India di sebelah saya memelototi saya. Ups ternyata saya berbagi tempat duduk dengan anak dia. Kalau di sana meski anak kecil jatah kursi harus dapat satu kursi dan tidak boleh berbagi. cih individualis sekali.

Oh ya, saya mampir untuk solat di Masjid Sultan di Bugis Strett. Saya merasa familiar dan dekat di sini. Banyak orang melayu tapi tetap saja di sekitaran masjid banyak kafe dan mal yang jual makanan dan minuman haram. Ampun deh.


Bugis Street

Hari ke-2

Hari kedua ini saya bersama teman saya yang masih mengantuk memutuskan pergi ke Johor Baru, Malaysia. dengan menyeberang bus kami ke sana dan memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Yang saya sesalkan dalam waktu segitu kita tidak diperkenankan makan dan minum. hellow, nyiksa banget kan. Saya kemudian protes ke teman saya kalau Singapura harus bikin peraturan yang relevan dan masuk akal. Bisa-bisa orang dehidrasi kalau tidak minum selama 1,5 jam.

Di Johor kami terdampar di pasar yang berbatasan dengan terminal. Setelah makan, kita bingung hendak kemana karena Johor minim pariwisata. Perjalanan saya semakin kacau karena teman saya tampak tak bersemangat dan kami berulang kali salah turun naik mobil.

Kemudian berjanji mengantar saya ke Little India, saya ingat di sana dia mulai terpengaruh budaya SARA Singapura. Dia mewanti-wanti saya untuk hati-hati terhadap tas saya, dia bilang saya bisa lengah dimana saja tetapi tidak di Little India. Meski begitu saya tidak peduli saya bersikap wajar seperti biasa tanpa mengendurkan tingkat waspada saya.

Saya keling sana keliling sini, teman saya minta pulang karena dia sangat mengantuk. Kami sempat mampir ke kuil di dekat sana dan melihat upacara entah apa. Saya selalu tertarik dengan colourful-nya kuil mereka hehehe.

Salah satu kuil di Little India

Terakhir kami mampir ke swalayan, aduh saya lupa namanya. Saya hitung budget saya untuk bisa beli coklat yang lucu-lucu rasanya di sana. hehe. Akhirnya habis 400 ribu rupiah cuma beli cokelat.

Hari ke-3

Hari ketiga saya dibebani dengan balas budi kepada teman yang telah memberi tempat hidup. Dia minta saya untuk membuatkan kimbab. Hehehe dia suka kimbab buatan saya yang made in Indonesia sekali. Tapi ada satu tempat yang saya masih mau lihat. Itu China Town.

kuil di China Town

Jadi saya langsung meluncur ke sana pagi-pagi sekali dan belum banyak yang buka. Di sini saya kalap belanja oleh-oleh lagi karena unik dan murah. Ya Cina memang gudangnya murah hehe. Di sini saya terus menerus melihat jam karena takut tidak sempat masak. Apalagi mengingat saya harus pulang sore harinya.

Saya mampir ke kuil di sana, merah menyala langsung mencolok mata saya. Tapi untuk saya tidak sampai dibuat menangis. Foto-foto sebentar dan lagi mata saya pedih karena asap dupa. Akhirnya selepas masak saya berpamitan pulang ke Jakarta. Lagi-lagi teman saya tidak mengantar, tapi tidak apa saya cukup senang karena tidak banyak menghabiskan uang di sana. Sebagian besar uang saya habiskan untuk oleh-oleh kerabat dan sahabat. Sampai tas saya penuh oleh-oleh :).

Sampai di Changi ternyata pesawat berangkat jam 21.00 bukan jam 19.00 duh salah lagi, akhirnya saya habiskan untuk eksplore Changi tapi lagi-lagi semua terasa biasa saja. Meski ada mall, taman di dalam sana, tapi saya merasa tidak terlalu bernafsu rasanya semuanya fana. Mungkin satu satunya yang berkesan di Changi adalah alat pijatnya haha.





Sampai di Indonesia saya merasa semakin mencintai Indonesia, negeri kita lebih indah dari manapun salah satunya Singapura. Saya beruntung bisa memiliki Indonesia lengkap dengan serba serbi penduduknya. Dimana semua masih terlihat normal, orang tidak bicara dengan teknologi. Atau tidak memperlakukan kakek nenek sebagai babu. Meski teknologi dan modernisasi minim saya tetap ingin tinggal di sini dibanding harus tinggal di Singapura. padahal Singapura termasuk majemuk juga tetapi tidak seperti negara kita. Mereka tampak baik di belakang dengan suku-suku lainnya, tapi jika kalian perhatikan amat jarang si India bergaul dengan Cina atau dengan Bugis.

Sepertinya memang pemerintah sudah memisahkan mereka dengan keberadaan Bugis street, China Town dan Little India. Begitu juga dengan sekolah mereka. Sampai suatu ketika pemerintah mengkampanyekan persatuan lewat program yang isinya pernikahan antara si Cina dan India. Semua tampak baik tapi menurut saya pemeintah Singapura menyimpan api dalam sekam. Fuh, ketidaksetaraan, SARA pasti akan jadi pemicu bentrok selanjutnya di Singapura.

Oke sekian pendapat dan perjalanan panjang saya soal Singapura. Ingat! berjalan-jalan itu membuat kamu tahu seberapa besar cintamu pada Indonesia, 

Selasa, 28 Mei 2013

3 Bukti sifat adaptif suku di Indonesia hilang

Sifat adaptif manusia  muncul sebagai reaksi manusia terhadap lingkungannya. Sifat adaptif juga merupakan implementasi dari strategi manusia untuk hidup dalam rangka memenuhi kebutuhan dan bertahan untuk hidup. Namun tahukah Anda, bahwa masuknya teknologi baru yang diciptakan manusia menyadi penyebab bergesernya strategi hidup. Strategi hidup yang baru menghilangkan strategi hidup lama manusia,seperti teknologi baru yang mematikan sifat adaptif yang muncul sebelumnya. Ada tiga contoh sifat adaptif suku di Indonesia hilang yang menyebabkan satu unsur kebudayaan juga hilang, berikut daftarnya,

1. Suku Dayak

Berpindah dan berladang adalah salah satu ciri suku Dayak dalam mempertahankan dan memnuhi kebutuhan hidupnya. Setiap suku dayak mulai berladang mereka akan menebang kemudian membakar satu lahan hutan. Lalu mereka tanami dengan tumbuh-tumbuhan, tanpa pupuk dan hanya mengandalkan unsur hara dari pembakaran tanaman yang ditanam suku dayang tumbuh subur. Selama musim berladang, banyak orang Kalimantan sampai Singapura protes akibat asap yang mereka timbulkan, Tapi itulah cara mereka hidup.

Setalah masa panen berakhir, mereka akan berpindah dan berputar ke hutan sebelumnya. Di hutan selanjutnya mereka melakukan hal yang sama. Berputar dari hutan ke hutan yang lain, tapi yang patut dicermati lahan yang ditinggalkan suku Dayak akan tumbuh pepohonan dan hutan lagi, mereka tidak memanfaatkan dan membakar hutan secara semena-mena tapi mereka berhitung dan berputar, Mereka tahun kapan hutan itu akan tumbuh lagi dan bisa dimanfatkan lagi. Naas, para birokrat dari Kementerian kehutanan tidak mengerti hal itu kemudian memotong jalur perputaran pemanfaatan hutan suku Dayak,. Dengan program reboisasi dan sebagainya yang semestinya menurut aturan suku Dayak bisa dihitung dengan cermat. Akhirnya, mobilisasi suku dayak terhambat, mereka tidak lagi bisa cermat memperhitungkan kapan hutan tumbuh dan kapan hutan bisa dimanfaatkan. Hasilnya demi mempertahankan hidupnya, kebanyakan suku Dayak turun gunung mencari strategi hidup yang lain, seperti ikut dalam mata pencharian orang desa. Hasilnya tentu saja bisa ditebak, bergesernya strategi hidup ini membuat banyak orang Dayak tidak bisa menghitung dan memanfaatkan hutan secara cermat dan baik. Orang dayak tidak lagi akrab dengan hutan.

2.  Kesunanan Surakarta

Tidak ada pernah ragu akan ampuhnya teknologi tradisional seperti yang dibuat Kesunanan Surakarta yang berada di Pasuruan. Tanpa teknologi tinggi mereka mampu membangun jembatan bambu yang terbilang rumit namun bisa bertahan bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya di tahun 1910 jembatan bambu itu roboh. Lucunya, masyarakat Pasuruan di sana tidak lagi mengenal cara membuat jembatan bambu tersebut akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil dinas PU setempat untuk membantu mereka memperbaiki jembatan ini.


3. Sistem waduk, kolam dan serapan air zaman Majapahit

Diterjang banjir terus menerus membuat Jakarta harus sadar dan kembali pada teknologi zaman Majapahit. di tengah teknologi serba terbatas, Majapahit justru tak pernah kebanjiran. Apa rahasianya ? mereka membangun satu kolam besar (Kolam Sagaran) yang digunakan untuk menampung air saat hujan sekaligus sebagai sarana pemandian umum. Selain itu pola aliran sungai juga ditata dengan apik, mereka membuat berbagai cabang sungai sehingga air yang begitu melimpah tidak berkumpul di satu titik sehingga menyebabkan banjir. Bukan hanya banjir, mereka juga tidak pernah mengalami kekeringan karena air yang melimpah saat musim hujan bisa ditampung dan dimanfaatkan.