Minggu, 21 Februari 2016

Cerita dari Bandung Part 1

Sudah beberapa tahun gw gak ke Bandung. Gw pun bukan orang Bandung yang setiap minggu biasanya balik. Kunjungan ke Bandung kali ini terkait seminar internsional linguistik di Universitas Padjajaran di Dipatiukur yang berada di bawah pepohonan rimbun, sejuk rasanya.

Saya tiba malam hari di Diaptiukur tanpa memesan hotel terlebih dahulu. Berniat menginap di sekitar kampus, tapi ternyata harga hotel lumayan gak bersahabat mulai dari 300 ribu per malam. Di tengah keputusasaan saya mengeluh dan bercerita ke seorang ibu kaki lima. Keberuntungan menghampiri, dengan baik hati ibu tersebut merekomendasikan sewa kos yang letaknya masuk ke dalam gang-gang tak jauh dari tempat seminar gue. Dengan harga Rp 90 ribu per malam.

Esok paginya seminar dimulai, di Dipatiukur jangan takut kelaparan karena jajanan menjuntai sepanjang jalan ayam bakar, mie ayam, bakso dan lain-lain, maklum markas anak kampus. Saya mengikuti setengah dari seminar tersebut, kenapa? Padahal sudah jauh-jauh dan mahal. Karna narsumnya menurut saya kurang kompeten beberapa orang dan membosankan. Jadilah saya yang bertemu dengan junior mendadak, cabut dari ruang seminar dan menjelajahi  Kota Bandung. Jangan ditiru ya.

Jalan Baraga

Dimulai dari Jalan Baraga atau Kota Tuanya Bandung. Saya sudah lupa sebenarnya Braga itu seperti apa banyak yang bilang makin cantik gara-gara Ridwan Kamil kalau sudah malam rata-rata di Braga sepi terkait aturan dari walikota. Sepanjang Braga teman saya bercerita kalau beberapa toko tua tutup karena bangkrut tetapi juga banyak yang bertahan kayak toko es krim citarasa kolonial-Sumber Hidangan. Beda dengan toko ice cream lain yang menunya udah green tea-an di sini mah ice creamnya bener-bener masih original gak ada rasa macem-macem tapi rasanya tetap enak seolah memgembalikan kita pada sesuatu yang sederhana namun tetap terasa nikmat. Yang bagusnya juga arsitekturnya dipertahankan sedemikian rupa.



Toko Ice Cream Sumber Hidangan

Di sepanjang Braga juga banyak para seniman jalanan yang menjajakan dagangannya. Mulai dari seni lukis, sketsa dan lain-lain. Di sepanjang Braga ini juga nyempil beberapa motel yang dalam kasat mata ini hotel kayak hotel esek-esek gitu. Ups! Yang tampak kentara juga bangunan tua Antara, teman jurnalis saya pernah mengatakan bahwa enggak ada yang mau berlama-lama di gedung ini kalau malam karena suka ada penampakan hahahah.... Yang lainnya juga ada beberapa hotel peninggalan Belanda kayak Savoy Homann Hotel sampai akhirnya nyampe ke Gedung Merdeka atau Gedung Asia Afrika.





Kota Tua Bandung
Karena masih euforia Asia Afrika jadi masih banyak ornamen dan pernak pernik tokoh-tokoh Asia Afrika berikut bendera-benderanya. Jadi enggak mau nyia-nyiain kesempatan dong buat ngelakuin selfi. Jalan terus kita akan ketemu Masjid Agung Bandung yang di bagian depannya sudah terhampar lapangan hijau mirip karpet yaitu Alun-alun Bandung. Meski panas menyengat  warga Bandung antusias lari-larian di alun-alun, apalagi masuk ke alun-alun musti lepas sepatu jadi aman deh anak-anak guling-gulingan.


Masjid Raya Bandung

Alun-alun Bandung


Satu yang saya sadari, memang Ridwan Kamil sudah sukses menyulap wajah Bandung menjadi lebih ciamik. Yang terpenting mengubah psikologi warga Bandung untuk bangga terhadap kota mereka. Pantas saja mereka enggan melepas walikotanya untuk jadi  gubernur Jakarta. 

Minggu, 14 Februari 2016

Hubungan Bahasa & Budaya



Pada prinsipnya bahasa mengatur kehidupan sosial kita. Apabila bahasa sudah digunakan sebagai sarana komunikasi maka saat itu peranan bahasa tidak akan lepas dari unsur budaya. Alasannya tentu karenaperantara bahasa, kita bisa mengetahui nilai, pengetahuan, kepercayaan, pengalaman yang dipegang oleh penuturnya.
Alam merujuk pada sesuatu yang dilahirkan dan berkembang sesuai dengan kodratnya sedangkan budaya adalah sesuatu yang telah ada dan sudah tersusun rapi. Sama seperti alam, budaya juga merupakan satu anugerah. Namun berbeda dari alam, budaya berperan dalam mengungkap unsur potensial yang ada di dalam alam tersebut. Oleh karena itu, kedua unsur ini tidak bisa dipisahkan. Kemudian untuk menjelaskan hubungan ini manusia menggunakan technology of the word yang di dalamnya terdapat unsur-unsur bahasa seperti kosakata, sintaksis dan lain-lain. Kata-kata inilah yang diadopsi oleh satu komunitas bahasa atau yang disebut dengan speech community. Untuk merespon reaksi alam, bahasa dan budaya menghasilkan socialization dan acculturationyang di dalamnya terdapat aturan dan norma yang telah disepakati masyarakat.
Orang dapat mengidentifikasi dari kelompok mana dia berasal lewat bahasa yang digunakan dalam interaksi mereka. Oleh karena itu muncullah satu komunitas bahasa dan komunitas wacana tertentu yaitu saat mereka menggunakan kode linguistik yang sama dalam berinteraksi kepada lawan bicara. Bukan hanya soal pemilihan kata secara gramatikal, semantik ataupun leksikal tetapi juga terkait topik dan bentuk pewacanaan yang dia buat. Sehingga akhirnya bisa disimpulkan mereka mempunyai budaya yang sama. 

Ada tiga lapisan dalam budaya yaitu sinkronik dan diakronik atau disebut dengan sosial kultural dan imajinasi. Melalui bahasa,imajinasi ini membentuk realitas budaya. Sebab imajinasi berperan menentukan manusia bertindak dan memutuskan sesuatu di kehidupan. Termasuk memilih dan mendefinisikan orang lain berada di luar atau di dalam komunitasnya. Selain itu, orang yang paling berpengaruh dan punya kekuatan di dalam komunitas ini dapat memutuskan nilai dan kepercayaan yang harus dimiliki oleh komunitasnya. Keputusan ini tentunya tak lepas dari kemampuan manusia untuk belajar dan mengingat kembali dari perjalanan sejarahnya serta membayangkan keadaan di masa depan. Apalagi kehidupan bermasyarakat danberbudaya, merupakan suatu yang bersifat heterogen dan berubah. Sebab di dalam kehidupan tersebut diisi oleh wacana yang sama namun dengan latar belakang anggota yang berbeda. Perbedaan ini menimbulkan dorongan agar halyang mereka perjuangkan dan percayai bisa dilegitimasi dan punya kekuatan di dalam masyarakat.
Cendikiawan Jerman, Herder dan Humbold menyimpulkan setiap orang yang berbahasanya berbeda menyebabkan cara pandang yang berbeda pula. Hasilnya mereka pun berbeda dalam menyikapi lingkungan sekitar. Kemudian pernyataan ini dilengkapi oleh hipotesis Sapir-Whorf yang mengatakan bahasa memengaruhi cara orang berpikir dan berperilaku.  Menurut Whorf hal ini dikarenakan bahasa pada dasarnya membentuk persepsi manusia dan membantu melakukan kategorisasi pengalaman mereka. Semantik merupakan salah satu unsur bahasa yang paling berperan dalam membantu manusia membentuk presepsi dan menciptakan kategori. Tetapi peran pragmatik juga tidak bisa dipinggirkan sebab pragmatik membantu manusia memahami pengalamannya lewat konteks. 

Safir & Whorf

Senin, 08 Februari 2016

Ke Bali Aku akan Kembali Part 4

Sudah memasuki hari ke-4 di Bali, lagi-lagi tetap mengincar pantai yang gak terlalu ramai di Bali. Starts kita tetap pagi tapi karna harus mengantar beberapa personel yang balik ke Padang jadi kita mulai perjalanan ke pantai Pandawa jam 12.00 WIT.

1.       Pantai Pandawa

Pantai Pandawa adalah pantai yang tebingnya dibuat sedemikian rupa untuk dipasangi patung-patung umat Hindu. Menurut gw sih rada sayang aja tebing dikikis gitu dan memang ke sana belum rapi. Pantai di sini lumayan sepi karena kita ga pergi saat weekend. Awalnya foto-foto cantik eh lama-lama nih baju basah. Jadilah tinggal manset dan leging aja haha. Di sana juga banyak orang Bali ngajak anjingnya jadi hati-hati aja klo tuh anjing lepas dari pengawasan tuannya bisa kita yang jadi dikejar. Maklum  gue takut sama anjing hahaha....

Pantai Pandawa


Ombak di sini juga besar jadi bisa main arus sambil berendem. Sayang gak ada sarana bilas yang memadai. Cuma aja sekotak WC yang bau dan ga layak. Sedih. Di sini temen gw kena dikedipin sama bule dan akhirnya kenalan hehe... Ya, Bali selalu tentang bule.  Baju basah semua gak bawa ganti akhirnya itu baju luaran dijemur di mobil pulang basah2an sampai mampir di  toko-toko beli oleh-oleh lagi. Pulang beli tolak angin aja trus bobo karena seharian basah gak ganti. Huft.

Hari kelima di Bali kita udah siap2 packing karena sorenya harus pulang lewat darat dan ini perjalanan serunya. Pagi-pagi udah mulai ujan-ujan kita mutusin gak mau jauh2 dari Denpasar karena harus balik pake bus dari Denpasar ke Gili Manuk. Jadilah kita ke...

1.       Museum Bali Denpasar

Bli Emon merekomendasikan museum Bali selepas kami beli oleh-oleh di Erlangga. Oh ya gw sih lebih suka beli oleh-oleh di Erlanga daripada di Krisna barangnya lebih beragam dan unik selain itu juga beberapa dilabeli halal kayaknya merekaconcern soal ini. Jadi kerasa lebih nyaman di Erlangga dan harganya juga sama dengan Krisna. Balik lagi kenapa si Bli rekomendasi musem ini karena banyak arsitektur yang pas banget buat foto-foto. Mulai dari pintu masuk sampai nanti kita naik ke puncaknya untuk melihat view kota Denpasar. 
Museum Bali

Sebenarnya di museum ini taman dan arsitekturnya bagus tapi isinya diorama dan foto2 sejarah Bali doang. Jadi wajar klo sepi karena kurang menarik dan interaktif padahal koleksi fotonya lumayan lah. Di sini juga banyak dijadikan tempat foto prewed jadi dimana di pojokan ada aja calon pengantin yang lagi foto.



Diiringi hujan rintik-rintik kita coba kuliner yang beda, selain ayam betutu (gw makan ayam betutu beberapa kali sampai mabok). Gw paling suka ayam betutu di depan danau batur penjualnya orang Islam dan bumbunya terasa benar. Kali ini kita cobain rujak bali rujak cuka sama minumannya yang  gw lupa namanya apa. Banyak sih rujak yang jenisnya aneh-aneh. Waktu di Aceh gw nemu rujak yang irisan kacangnya besar dan rada asam ternyata pakai jeruk nipis. Klo ini makin asem karena pake cuka, ga berani banyak-banyak takut di jalan mencret.

Rujak Bali

2.       Bus Gili manuk

Menjelang sore, kita beli perbekalan makan untuk siap-siap di bus dan kapal. Kira-kira kita naek bus itu siang sekitar jam 3, kapal berangkat jam 8 sore. Tapi lama banget ngetemnya booook! Akhirnya kita enggak menikmati view-nya karena keburu malem. Tapi ya super banget tuh sopir karena jalur ke Gili Manuk itu jalannya kecil, banyak truk pinggirnya tebing. Aduh mak, banyak istigfar deh. Beberapa tempat juga amat terasa deburan ombak karena sebelahan sama pantai. Angin makin semriwing, badan dihempas kanan ke kiri bus pun makin penuh karena bus yang lewat sini terbilang jarang. Di tengah jalan, bus merapat di pinggir pura dengan sigap sopir dan kernet turun meminta doa dari tokoh agama mereka alu diperciki air dan ditempelkan beras di dahinya. oalah gak hilang sifat relijius mereka meminta selamat. 

Di mobil pun ada sesajen
Dengan bawaan overload dan sudah setengah ngantuk, akhirnya kita sampai. Masih setengah sadar kita bingung mau kemana, akhirnya harus jalan sekitar 300 m. Sesampainya di pelabuhan Gili Manuk, tenryata kapal udah mau berangkat dong. Dengan tenaga tersisa kita gotong2 muatan kita lari-lari ngejar kapal yang lumayan murah harga tiketnya gak sampai 20 ribu dengan perjalanan sekitar kurang dari satu jam. Di kapal langsung pules kecapeaan. Belum juga lama tidur, kapal sudah merapat di Ketapang. Yeeeey sampai. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam dan banyak bus lalu lalang ada yang ke Surabaya dan daerah Jawa Timur lainnya. Kita sudah memegang tiket ke Malang besok subuh.

3.       Ketapang

Nyari-nyari penginapan ternyata banyak musafir yang tidur di masjid. Sebenarnya gw ga setuju gw tidur di masjid karna gw butuh colokan karena semua barang elektronik gw mati. Ya tak apalah mungkin beberapa teman sudah kehabisan ongkos. Tidur di masjid lumayan deg-degan haha. sepanjang malam kita kekepin itu tas hahaha...

Pagi-pagi tanpa mandi meluncurlah ke stasiun Banyuwangi, eh di sana ternyata gw salah beli tiket karena semua atas nama gue. Maklum baru pertama naek kereta antar Jawa gini akhirnya gw kebagian bayarin dua temen gw, karena harus tanggung jawab kan. Sempet dag dig dug karena kereta menjelang berangkat dan si petugas ogah dirayu-rayu. Heeeempf.


Bersama Bli Emon

Meski secara harfiah kita bertiga nyatanya gue pisah gerbong sendiri. Perjalanan dari Banyuwangi ke Malang yang ditempuh selama 2 jam gw ga bisa tidur. Padahal badan udah lelah, di samping kanan kiri beberapa ibu2 ngobrol eh malah keikutan. Sesungguhnya di kereta ekonomi ini kita bisa melihat jelas realita sosial. Ya tepat di depan gw seorang ibu asli Malang pernah beremigrasi ke Papua suaminya berladang dan dia jadi PRT meninggalkan seluruh anak-anaknya. Sungguh suvivor sejati, setelah itu di balik di Papua dia balik ke Malang. Di Malang dia bingung kerja apa kalau enggak salah hanya buka warung kelontong saja. Tahu enggak meski disebut sebagai ibu desa tapi sungguh ibu ini tahu perkembangan tanah air dan teknologi sampai rajin buka google wooow banget kan.

4.       Malang

Sampai di Malang sudah siang dan kita harus tunggu kereta Malang-Jakarta malamnya. Luntang lantung di pinggiran satsiun Malang. Gw pun harus segera mengganti tiket yang salah beli lagi. Di malam sempat beli oleh-oleh keripik bekicot yang ternyata rasanya lezat. Malam di Malang gw harus pisah gerbong lagi, gw sendiri duduk di bangku untuk tiga orang. Malam di Malang dingin begitu menggigit tak terasa gw berbaring di bangku sembari meringkuk sendirian mirip orang habis OD. Hahaha 

Di pertengahan jalan saat matahari mulai muncul lagi gw baru sadar ternyata gw salah kursi dong. Ternyata kursi gw sesungguhnya masih di gerbong depan lagi. Malas pindah akhirnya gw luntang lantung di gerbong makan. Sambil sesembari menengok teman di gerbong belakang. Sebenarnya sepanjang perjalanan sudah banyak orang bertanya orang sekecil gw berani jalan sendirian dengan segembol tentengan. Yah.... harus hati-hati juga karena takut ada aja orang jahat. Tapi Alhamdulilah, akhirnya masinis meniup pluitnya di stasiun Jatinegara. Gw pun turun, dengan lelah yang tak tertahankan. Gw pun harus naek transjakarta lagi menuju rumah dengan tas yang sudah robek dimana-mana dan isinya mau keluar. Sampai di rumah dua hari tidak mandi, langsung mandi langsung tepar selama 12 jam hahaha... Yah begini lah traveling dengan darat capeknya super tapi dijamin pengalamannya tak kalah kaya dan menarik. So coba ya guys.



Kamis, 07 Januari 2016

Sekilas tentang China, Negeri para Panda

  • Negara berpenduduk paling banyak

Dengan penduduk yang mencapai 13 milyar, China adalah negara dengan penduduk mencapai 20 persen dari penduduk di seluruh dunia. Banyaknya penduduk di China tak lepas dari prinsip hidup mereka yang menganggap keluarga sama pentingnya seperti pembuluh darah jika mereka banyak anak maka banyak juga keberkahan yang didapat. 

Lucunya anak-anak China


Oleh karena itu pemerintah China menggalakkan gerakan satu anak jika ada ibu melahirkan dua kali maka akan dikenakan pajak besar. Namun di desa-desa yang tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah masih saja terdapat ibu yang melahirkan anak lebih dari dua kali sehingga menyebabkan setiap tahun penduduk China bertambah

  • Daratan yang luasnya 96 kali dari semenanjung Korea 
Cina merupakan negara ketiga yang mempunyai daratan terluas setelah Rusia dan Kanada. Negara Rusia dan Kanada beriklim dingin sehingga banyak tempat yang tidak dihuni oleh manusia sedangkan China sebagian besar tempat bisa dihuni kecuali daerah gurun. Daerah yang luas serta pemandangan dan iklim yang beragam menjadi ciri khas China. Di bagian paling utara China beriklim dingin sedangkan di bagian selatannya iklim panas.

Salah satu pemandangan di China

  •  Negara yang mempunyai sejarah menakjubkan

China adalah negara yang sudah ada sejak 5000 tahun lalu. Peradaban China telah ada sejak abad keempat, sejak ratusan ribu tahun lalu kebudayaan mereka sudah mulai berkembang kemudian menyebar ke negara-negara seperti Korea, Jepang dan lain-lain. Tulisan China menjadi warisan tertua di dunia dan juga menajdi tulisan yang paling banyak digunakan di dunia. Temuan China sejak abad ke empat meliputi kompas, bubuk mesiu, percetakan yang menurut sejarah sangat memberikan pengaruh pada dunia. 

 Saat masa kejayaannya menurun, negara-negara Eropa Barat yang mewujudkan revolusi industri mulai datang dan menjajah China. Perang pun terus berlanjut dengan Eropa Barat, hal ini membuat harga diri China terluka. Tetapi di dalam hati orang-orang China muncul perasaan bangga mereka ingin mengembalikan China sebagai pusat peradaban seperti dulu dan untuk mewujudkannya mereka sedang berusaha dengan keras.
Kompas China di zaman dinasti Han
  •  Bersama dengan Amerika menopang perekonomian dunia

Pada tahun 1949 di bawah kekuasaan komunis, China dulu adalah negara yang jauh tertinggal di antara negara-negara lain. Setelah politik komunis selesai, China menerima pengaruh kapitalisme dan mulai berkembang hingga akhirnya  perekonomiannya melampui negara-negara lainnya di dunia. Hal ini tak lepas dari peran politik yang dicetuskan Deng Xiao Ping. Dengan slogan ‘mau itu kucing hitam atau tikus putih semuanya harus ditangkap’ membuat perekonomian China berkembang pesat. Produk ekspor China sampai saat ini yang merajai dunia terdiri dari bahan-bahan pangan atau produk dari industri kecil dan meluas ke industri otomotif, industri elektronik dan lain-lain. 

  • Tingginya perlakuaan terhadap anak
Menerapkan politik satu anak pada 1979 membuat nilai-nilai sosial dan keluarga berubah. Sekarang anak-anak China tidak hanya diperhatikan secara total oleh orangtua saja melainkan juga oleh kerabat hingga kakek-nenek di keluarga tersebut. Tak heran jika anak China yang hendak sekolah menerima sejumlah hadiah dari keluarganya. Bahkan si anak yang ingin masuk sekolah bisa mendapat 7 tas sekiah sekaligus sebagai hadiah. Maka oleh sebab itu tidak berlebihan jika sekarang ini ada sebutan ‘kaisar kecil’ dalam membesarkan anak

Bagi masyarakat China pertalian darah sangatlah penting, yaitu hubungan antara keluarga dengan saudara,kerabat. Sekarang pun jika kita mengunjungi desa di China kita dapat menemui  satu kelompok yang menggunakan nama keluarga sama,  mereka bersama-sama memutuskan hal kecil maupun besar.  Prinsip pertalian darah seperti ini memang menguntungkan karena membawa persatuan. Pertalian darah ini yang membuat rakyat China bisa hidup bersama dan bersatu. 


Profil Negara  China

Nama negara : Republik Rakyat China
Letak geografis : Asia Timur
Ibu Kota : Beijing
 Bahasa negara : Bahasa china (mandarin atau disebut juga putonghua
 Penduduk : 1.338.612.968 orang
Suku bangsa : Bangsa Han (92%) 55 suku minoritas
Luas wilayah : 957.002.900km (1/5 dari benua asia)
Mata uang : Yuan
 Agama : Konghuchu, Buddha, Taoisme selain itu Islam(2%), Kristen (1%)
Bentuk negara : Republik Sosialis
Kota administrasi : 22 distrik, 5 daerah otonomi, 4 kota yang dikontrol langsung pemerintah pusat, 2 daerah administratif khusus
Iklim : karena wilayahnya yang luas iklim bergantung pada tempatnya, yaitu iklim lembap, subtropik, kering
Sungai penting : sungai Yang Tse, sungai Hwang Ho, sungai  Xijiang
Gunung penting : gunung Himalaya, gunung Kunlun, daratan tinggi Tibet, daratan tinggi Yoon Gui, gunung Qinlin, gunung Diva
Hasil alam : teh Phuer dari provinsi Yunan, teh Longjing dari provinsi Hanzhou, sutra dari provinsi Sozhou, Maotai yang mempunyai sejarah 800 tahun dari provinsi Guizhou



Sumber : World Culture-Kim Soo Jung

Senin, 04 Januari 2016

Ke Bali Aku akan Kembali Part 3

Memasuki hari ketiga di Bali kami mulai bingung harus start dari mana. Berhubung beberapa teman mempunyai style traveling beda karena demen shopping maka kita memutuskan untuk berhenti sejenak memuaskan dahaga salah satu temen kita yang mau shopping di discovery mal, Kuta. Mal ini dibelakangnya ada pantai, tapi mau kayak gimana juga mal tetap mal sama semuanya  juga jualan hahaha...

Di mal kita cuma bertahan setengah jam karena gak betah di mal, kecuali temen gue yang ngaku mau beli sesuatu akhirnya gak beli apa-apa. Seperti biasa. Perjalanan di lanjutkan ke GWK alias Garuda Wisnu Kencana


1.     Garuda Wisnu Kencana

Dari awal Bli Emon udah cerita panjang lebar soal patung ini. Konon katanya kalau patung ini dilanjutkan pembangunannya akan menjadi patung terbesar di dunia. Tapi karena urusan politik, pembangunan patung ini sengaja ditunda. Dia juga menyebut versi cerita yang lain. Ada yang bilang jika pembangunan dilanjutkan maka pulau Bali bisa tenggelam. Menurut kamu mana cerita yang masuk akal?

Patung Garuda

Sampai di pintu gerbang. Lagi-lagi dengan kekuatan orang lokal kita bisa dapat potongan harga. Setau gue tiket masuknya itu sampai Rp 40 ribu. Setelah masuk kita langsung foto-foto di depan patung sang garuda dan wisnu. 





Ada tebing-tebing yang sedemikian indah dibentuk tempat patung ini enggak biasa. Ada padang rumput yang kalian bisa duduk atau tidur-tiduran hahahaha. Kami sebenarnya random aja di sana alias kemana-mana dan ternyata ada jadwal tertentu yang membuat kalian bisa menyaksikan tarian bali dan pawai ogoh-ogoh. Seru! Setelah menari ternyata kalau mau foto dengan para gadis bali atau ogoh-ogoh kalian bisa memberi mereka uang  seikhlasnya sih. Cuma enggak enak aja dipandang mata turis asing, menurut gue!


Pawai Ogoh-ogoh
2.     Pantai Balangan

Bli Emon adalah sopir sekaligus guide yang pandai merekomendasikan destinasi wisata di Bali. Awalnya kita mau ke dream land tapi kata bli di sana komersiasliasinya udah parah jadi mending ke pantai yang enggak mainstream aja tapi enggak kali indah, ya pantai Balangan. Dibanding dengan pantai kuta, sanur nama balangan belum banyak dikenal dan benar saja jalannya benar masuk ke jalan kecil dan enggak ada parkiran khusus gitu.

Pantai Balangan

Pantainya sepi dan syahdu jadi bikin loncat-loncat sendiri karena pantai ini pantai gue banget yang enggak suka keramaian tapi indah. Alhasil tubuh ini sudah rela digempur ombak segede apapun. Seneng banget. Mau kayak orang gila juga enggak ada yang ngeliatin hahaha.

Pantai Balangan
Bukan cuma gue yang kepincut pantai ini, bermacam-macam bule juga datang ke pasir putih ini tanpa berisik. Meski saat itu ombak tengah besar namun ada yang menarik perhatian. Sejoli sedang foto prewed, emang bener deh cocok banget pilihannya dengan latar tebing mereka bisa dapat foto yang bagus sekaligus romantis dan manis dengan dress warna warni yang berkibar-kibar.

Pemotretan prewedding


3.     Makan malam di Jimbaran

Perjalanan hari ini ditutup dengan makan cantyik di Jimbaran. Kita sudah menduga harganya selangit, awalnya berpikir bakal ditraktir sama temennya temen gue secara dia yang ngajakin berarti dia yang teraktir dong hahaha. Tapi mau gimanapun, enggak nyesel makan di sini. Cuma yang nyesel itu gue kurang khusyuk makan di bawah tenggelamnya matahari yang super cantik karena ramai dan ribet pesen makanan. Padahal langitnya lagi ungu banget hwaaaa sebel.

Sunset Jimbaran

Pas makanan kita datang, seafood segala rupa bener-bener buat air liur menetes. Yang paling jagoan sih tiramnya plus saus yang enak banget slruppppp!. Tapi abis itu langsung tongpes karena satu orang ngeluarin lebih dari 100 ribu dan kita itu sekitar 5 orang. Hwaaa luamayan banget. Akhirnya besoknya kita bener2 cuma makan nasi jinggo yang murah meriah.

Menu di Jimbaran

Makan di sini ikannya seger kalian juga bisa milih sendiri, tapi asepnya itu lhooo poool banget nampolnya. Jadi abis makan lumayan jadi bau asep abis tadi keringetan bau pantai hahaha.