Senin, 09 Januari 2017

Cara Anak Bedakan Konsonan & Bahasa Asing

Sampai kini dualisme teori dan pendapat pemerolehan dan pembentukan persepsi anak belum bisa terpecahkan. Sebagian mengikuti Chomsky dan menganggap anak mampu berbahasa karena dorongan dari lingkungan dan sifat alami manusia. Tetapi setelah 50 tahun berlalu, pendapat lainnya dari Elman dan Saffran muncul dan menyanggah kemampuan bahasa bukanlah bersifat turunan tetapi lebih karena kemampuan anak dalam mengembangkan kemampuan bahasa.  
Untuk membuktikan dua teori kuat tersebut serangkaian penelitian pun dilakukan untuk mencari tahu proses pemerolehan bahasa yang terjadi pada bayi setiap bulannya. Seperti High-amplitude sucking (HAS) yang menjadikan kecepatan mengisap dot pada anak menjadi acuan. Di dalam dot tersebut ditaruh alat pengukur kecepatan untuk mengetahui apakah anak berekasi ketika diberi suara tertentu.

Ada juga metode penelitian yang menggunakan conditional head-turn. Dengan metode ini, reaksi anak bisa dilihat dari perhatian yang diberikan anak terhadap objek dan suara tertentu. Reaksi dan kecenderungan yang diukur lewat dua metode itu akan menuntun anak membangun persepsi dan pengetahuan bahasa mereka.



Dari penelitian itu didapat bahwa setiap bulan, anak belajar bahasa untuk pertama kalinya dengan cara mengkategorikan suara yang dia dengar, dari situ dia mulai menghubungkan suara dengan kata dan akhirnya mampu berkomunikasi dengan orang lain. Liberman menyebutnya dengan persepsi kategorikal (Peter W Jusczyk 2000:46).

Berikut adalah hasil penelitian pada anak yang menunjukan kecenderungan anak terhadap variasi suara tertentu :

1. Membedakan berbagai konsonan 



Dari metode HAS tersebut, didapat bahwa bayi sudah bisa membedakan bunyi konsonan dan suku kata. Sebagai contoh Eimas pernah menguji anak berumur satu bulan. Saat itu dia memperdengarkan suara /b/ dan /p/  dengan jeda diantaranya. Hasilnya si bayi mampu membedakan bunyi /b/ dan /p/ seperti orang dewasa. Dari konsonan ini anak bisa membedakan aspek fonologis lebih jauh lagi. Seperti membedakan tinggi rendah konsonan tersebut pada umur dua bulan. Kemudian kemampuan ini berkembang saat anak sudah bisa membedakan mana yang huruf dan mana yang suku kata.

2. Membedakan bahasa asing

Meski belum punya pengetahuan dengan tentang bahasa asing, bayi ternyata mampu membedakan bahasa ibunya dengan bahasa asing. Dengan menggunakan metode HAS juga, seorang bayi Perancis berusia empat hari mampu membedakan mana bahasa Perancis dan bahasa Rusia. Sebab saat diperdengarkan kedua bahasa tersebut, isapan dot anak lebih cepat saat diperdengarkan bahasa Perancis daripada bahasa Rusia.


Tetapi jika bayi tersebut berasal dari orangtua yang berbeda negara maka saat diperdengarkan bermacam-macam suara dari berbagai bahasa seperti Polandia, Rusia, Arab dan sebagainya, dia sama sekali tidak menunjukkan kecenderungan pada bahasa apapun. Dari sini bisa disimpulkan anak lebih suka bahasa asal ayah ibu mereka.

Selain itu, peneliti lain mencoba membandingkan bahasa yang berbeda ke seorang anak.  Dari percobaan Trehub seorang anak Kanada satu diperdengarkan suku kata dari bahasa Inggris dan bahasa Ceko. Ternyata anak mampu membedakan fonem yang mirip dalam bahasa Inggris dan Ceko. Tetapi hal justru tidak bisa dilakukan dengan baik oleh orang dewasa.

Serangkaian penelitian juga dilakukan dan hasilnya sama, sehingga peneliti menyimpulkan semakin besar anak maka dirinya akan semakin sulit membedakan fonem yang mirip. Hal itu karena semakin bertambah dewasa maka semakin sering juga dia menemukan lingkungan bahasa yang berbeda yang menyebabkan dirinya tidak bisa fokus lagi. (Jacqueline Sachs dalam Jean Berko Gleason 2001:72).

Kemampuan membedakan bahasa asing ini tak lepas dari kemampuan anak membedakan ritme dan tekanan bahasa. Seperti yang diketahui di setiap bahasa memang mempunyai karakteristik baik berupa ritme dan tekanan berbeda. Seperti ritme di dalam bahasa Perancis dan Jepang yang panjang huruf vokal dan konsonan berlainan. Pengetahuan seperti inilah yang akan mengantarkan anak mengetahui tataran fonologi lebih dalam.

Baca Juga: Proses Pemerolehan Bahasa & Pembentukan Persepsi Anak
Hebat! Bayi Sudah Bisa Membedakan Bahasa Asing
Sejak Bayi, Anak Sudah Bisa Bedakan Suara Ibu

Minggu, 08 Januari 2017

Menjumpai Kesenangan di Malang (2)

Liputan Sapi

Pagi-pagi udah harus siap-siap liputan menuju peternakan sapi di Pujon yang letaknya lebih jauh lagi dari Batu. Ternyata daerah ini sapi-sapi perahnya beneran gede-gede banget kayak yang suka ada di tipi dan mirip kayak di eropa kali hahaha (kayak udah pernah ke Eropa aja).

Yang patut diapresiasi, Nestle yang asli produk Eropa malah pakai produk susu lokal. Mereka juga memberikan pelatihan meski susu yang dibeli dari para peternak harganya masih murah.

Liputan ultah Nestle kali ini bukan cuma liat stand-stand di Pujon. Tapi langsung juga pantau sapi yang gemuk-montok, pulang-pulang saya bingung apa musti harus ke Museum Angkut ato balik ke hotel karena hujan dan nun jauh di sana rekan mantan merdeka.com sudah menunggu dan berjanji akan menemani keliling Malang.

Jadilah sayabalik ke hotel dulu naek angkot muter-muter karena gojek ditungguin gak dapet-dapet. Dengan segenap tenaga dan menembus gerimis manis kita langsung pergi ke Museum Angkut yang untungnya masih buka sampai jam 9 atau 10 malam.  Dengan promo citilink, saya lumayan dapet diskon sekitar 25% hehe cuma nukerin nomor boarding. lumayan.

Museum Angkut

Museum ini mungkin salah satu museum yang terbilang cantik dan pengelolaannya terbukti profesional. Semula teman wartawan menyarankan untuk langsung menemui pengelola untuk mendapatkan tiket gratis, tapi tentunya upahnya adalah berita. Tapi saya menolak dengan alasan saya emang mau liburan tanpa mau menulis.

Alhasil dengan masih berbasah ria karena kehujanan, saya sama teman kudu melewati food court apung untuk bisa masuk ke entry area. lucu aja konsep food court ini tapi terbilang sempit dan terlihat sumpek, meski kelihatannya mau dibuat seperti pasar apung lengkap dengan sampan.

Baru masuk ke museum ini kita langsung disuguhkan dengan mobil-mobil bermerek yang klasik kayak cadillac, ferrari model lama dan macam-macam. Oh ya kalian ga boleh foto-foto pakai DLSR mending pake HP aj karena akan dikenai biaya.




Banyak atraksi di sini, yang terbaru adalah simulasi pesawat terbang tapi saya terlampau malas mengantri panjang dengan saingan anak-anak kecil hahaha...

Jadilah kita skip wahana ini, dan langsung beralih ke area tematik China yang cantik banget dengan lampion-lampion dan sepeda yang bisa kita naikin trus foto-foto.



Gerimis makin keras, hujan deras pun bikin saya kerepotan lantaran sebagian besar tempat foto ada di outdoor. Untung ada payung yang bikin suasa makin romantis dan sepi karena semua orang neduh, dan saya sibuk foto-foto dengan guyuran hujan dan lampu kerlap kerlip. Suka!








Tempat ini emang dikhususkan untuk pecinta selfi jadi spot fotonya banyak banget. kata temen saya, suasananya lebih bagus malam daripada siang berkat lampu yang pasti ribuan watt ini.

Ada konsep Hollywood, Italia, Prancis, Inggris sampai tematik kayak Harry Potter dan Buckhingham Palace.




Sebagai penutup kita keluar melewati gerbong kereta yang bergoyang-goyang dsertai suara kereta api beneran. Lucuk! gak itu aja di sekelilingnya disebutin juga sejarah kereta secara ringkas. Jadi enggggak banget nyesel ke sini kalau ke Malang.

Ketan Susu

Malang juga dipadati dengan restoran yang super banyak di sepanjang jalan. Mau nyobain apa aja ada. Tapi yang legendaris itu ketan susu yang ada di dekat alun-alun Kota Batu.

Warungnya sih kecil tapi jangan salah, semua orang berebut nyari tempat duduk. Hujan-hujan gini emang enak makan ketan susu yang juga menyediakan ketan kekinian pakai duren, coklat, ovaltine dan lain-lain plus susu. Duh hangatnya.


Masih kelaperan, akhirnya kita singgah lagi di ramen yang lumayan dipadati pengunjung. Tiba di hotel sudah hampir jam 10 malam

Pengin cepat-cepat melepas lelah, sembari bersyukur dianugerahi pekerjaan yang asik parah bisa curi-curi waktu buat jalan-jalan gini. Kerja sembari traveling. What a great job ever!

Baca Juga: Menjumpai Kesenangan di Malang (1)

Selasa, 03 Januari 2017

Ini Rahasia Mengejutkan tentang Kulit Badak dan Pantat Monyet

Primata atau monyet

Monyet termasuk ke dalam golongan mamalia atau biasanya dipanggil dengan primata. Monyet dalam bahasa inggris berarti monkey yang merujuk pada monyet yang mempunyai ekor panjang (banyak monyet yang tidak mempunyai ekor panjang seperti monyet jepang). Sedangkan monyet yang tidak berekor disebut dengan ape. Bobot tubuh anak monyet betina sekitar 80 kg tetapi ada juga bobot tubuh yang mencapai 200 kg seperti gorilla, jenis-jenis monyet juga beraneka ragam di dunia diperkirakan ada 200 jenis monyet. Jenis-jenis itu dibagi ke dalam golongan gorilla, orang utan, gibbon, kera (ape). Kera dan monyet berbeda kera tidak mempunyai ekor ataupun kantung pipi. Sebagian besar monyet sejak lahir bokongnya polos dan bokongnya keras. Hal itu agar ketika duduk lama di pohon bokongnya tidak sakit. Sedangkan kera tidak mempunyai pantat yang keras. monyet pantat merah itu karena pembuluh darah monyet dekat dengan kulit pantat monyet yang tidak ada bulunya jadi warnanya seperti darah.


Warna bokong monyet yang sudah dewasa lebih terang dibandingkan dengan monyet yang masih anak-anak lagipula jika monyet itu sehat maka warna bokongnya juga semakin merah. Sedangkan gorilla atau orang utan yang tinggal dibagian selatan mempunyai bokong yang berwarna cokleat tua

Badak

Badak adalah hewan besar setalah badak yang memakan rumput. Badak India dan badak jawa culanya satu sedangkan badak putih, badak hitam dan badak sumatera culanya ada dua.
cula badak sama seperti tanduk rusa tetapi sebenarnya kalau diperhatikan cula itu terbentuk dari kulit yang mengeras. Sama seperti kuku manusia yang mengandung keratin cula ini juga terus tumbuh, yang paling panjang bisa mencapai 1,2 m



Badak, gajah, kuda nil tergolong kedalam kelas pachydermata karena kulitnya yang keras. Kemudian walaupun berkulit keras tetapi jika dipegang seperti ban mobil yang bersifat elastis. Mereka menjaga temperatur badan mereka dengan melumuri diri mereka dengan lumpur atau tanah serta mandi.  Di saat malam dan pagi hari mereka memakan alang-alang atau rumput. Mereka juga beristirahat di tengah hari yang panas dengan tidur dalam hutan atau berendam (contoh kuda nil)

kulit yang berubah menjadi cula
Selain badak jawa semua badak jantan maupun betina mempunyai cula. Tapi ada juga badak sumbu yang bercula satu dan bercula dua. Berbeda dengan hewan lain, cula badak bukan merupakan tulang dalam tetapi terbentuk dari kulit. Kulit terluar yang menjadi keras ini berasal dari albumin yang terbentuk dari keratin. Sehingga cula badak ini bisa dilihat juga sebagai benjolan.

Sumber
penulis : comicom
gambar : nemo, kim chang hoo

Baca Juga: Mengenal Lebih dalam Gajah Asia & Bunga Rafflesia
Di hutan apa sebenarnya Tarzan tinggal?

Minggu, 01 Januari 2017

Ini Beda Erotisme & Pornografi

Erotisme dan pornografi masih menjadi hal yang tabu bagi sebagian masyarakat Indonesia yang menganut adat timur. Namun sesungguhnya dua kata tersebut amat jauh berbeda. Erotisme dalam berbagai definisi disimpulkan berkaitan dengan libido atau mengarah pada keinginan seksual. Sedangkan pornografi lebih menonjolkan penggambaran tingkah laku seksual dengan tujuan membangkitkan nafsu seksual. Yang patut diperhatikan juga, erotis dan pornografi saling kait mengkait karena sama-sama merujuk pada libido atau hasrat. Yang pasti tidak semua yang erotis itu pornografis tapi dalam pornografis selalu ada erotisme.
Satu hal perlu dicermati dalam penyajian karya yang memuat nilai erotisme yaitu kebudayaan para pembacanya. Sebab nilai erotisme bisa dimaknai luas ataupun sempit sesuai kebudayaan di tempat dan waktu tersebut. Sebagai contoh, Karya Sade (1740-1874) yang menggambarkan banyak adegan seks sadis. Sade mengatakan penggambaran itu dilakukan sebagai reaksi terhadap kehidupan sosial budaya yang terlalu dikekang dan diatur pada abad ke-17.


Di lain pihak juga, erotisme juga bisa dipandang dalam segi kebahasaan atau yang disebut dengan teks erotis. Lebih jelasnya, teks erotis adalah tindakan, keadaan dan suasana yang menggambarkan hasrat melalui kata-kata. Teks erotis dibagi menjadi dua yaitu teks erotis yang dipandang dari segi teks dan teks berdampak erotis yang dipandang dari dampak teks erotis. Dampak teks erotis erat kaitannya dengan teori semantik dan paradigmatik.

Pemberian makna teks erotis bisa dilalui dengan dua cara dalam semantik yaitu dengan cara konvesional dan situasional. Secara konvensional adalah dengan jalan pragmatik, sedangkan secara situasional bergantung pada komunikasi. Sehingga tak jarang novel, berita dan sebagainya menggunakan metafora agar tidak terlalu mentah atau menyinggung pembaca. Namun metafora inilah yang memunculkan beragam penafsiran berkali-kali dari pembaca. Maka bukan hanya pragmatik, unsur semantik yang berada di dalam metafora tersebut meluas menjadi semiotik. Semiotik ini membuat pembaca tidak menafsirkan teks satu kali tapi beberapa kali dengan bertumpuan pada tanda.

Selain itu, Jika dilustrasikan dampak erotis terhadap unsur pragmatis adalah sebagai berikut, E (dampak erotis) ← P (situasi pragmatis). Namun struktur itu belum cukup karena untuk melengkapi penafsiran pembaca harus menyertakan pengalaman dan pengetahuannya sehingga strukturnya menjadi E (dampak erotis) ←  P (situasi pragmatik) ← p (pengalaman). Dari sini diketahui pragmatik tidak lepas dari peran serta komunikasi kebahasaanm peran konteks kebahasaan dan peran adat kebahasaan. Dalam pragmatik teks bukan hanya sekedar tuturan tapi memperlihatkan proses.

Seperti yang sebelumnya disebutkan, bukan hanya pragmatik yang mengambil peran dalam menafsirkan teks, semiotik sebagai pembaca tanda juga ambil bagian. Ada dua teori besar untuk memaparkan semiotik.  Pertama, menurut teori trikotomis Pierce, proses pemakanaan melalui tiga tahap presepsi (representamen), perujukan (objek) dan interpretan (penafsiran). Ketiganya saling berhubungan untuk menimbulkan pemakanaan atau yang disebut dengan semiotik. Proses semiotik ini tak terjadi satu kali melainkan tak terhingga atau tak terbatas. Alasannya setiap proses interpretan berkembang menjadi representasi baru.

Kedua, model dikotomis dari de Saussure dan Barthes. Saussure menjelaskan proses semiotik akibat dari penanda (significant) yang kemudian diserap oleh penerima tanda. Di saat bersamaan penanda dikaitkan dengan petandanya (signifie). Menurut Saussure penanda dipandang sebagai suatu citra akustik. Teori Saussure selanjutnya dikembangkan oleh Barthes.  Dalam model dikotomis Barthes hubungan penanda (ungkapan/E) dan petanda (isi/C) tidak terjadi satu kali tapi berlanjut. Hubungan atau relasi (R) sistem primer yang terdiri dari E1-R1-C1 berkelanjutan menjadi E2-R2-C2 atau yang disebut sebagai sistem sekunder. Sistem sekunder ini berorientasi dari ungkapan (E) dan isi (C). Jika sistem ini berorientasi pada E maka terjadi perluasan ungkapan namun isinya tidak berubah (gejala metabahasa). Sebagai contoh kata ‘senggama’ diganti dengan E lain yang isinya sama misalnya ‘berhubungan badan’ atau ‘coitus’. Sedangkan sistem sekunder berorientasi pada C atau isi yang ada adalah perluasan petanda (isi) bukan penandanya (gejala konotasi).  Seperti kata bersenggama dipeluas C-nya dengan memperhatikan rasa dan nilai seperti kegiatan ‘seks yang menggairahkan’.

Dari segi sintagmatis, teks erotis selalu dilihat segi tempat dan distribusinya dalam struktur. Ahli linguistik Jean menyimpulkan teks erotis itu adalah hasrat yang didasari dari libido.Menurut Jean, kebanyakan teks erotis itu menjanjikan sesuatu tapi tidak memberikannya. Contoh,  “dengan penuh gairah Didi mendekap Titi dan…”. Dari contoh tersebut kata-kata ‘mendekap’ adalah kata metafora yang sengaja dicantumkan agar tidak  berkonotasi seronok, kasar atau cabul.

Kembali lagi melihat teks erotis dengan pendekatan semiotik, kali ini dengan teori trikotomis Pierce. Dari teori ini kita dapat mengetahui suatu teks itu berdampak erotis atau tidak. Caranya dengan melihat teks sebagai representamen terpisah-pisah dan keseluruhan. Kembali ke contoh “dengan penuh gairah Didi mendekap Titi dan…”, jika dilihat secara sepotong-potong atau terpisah kata metafor ‘mendekap’ bisa saja dilakukan untuk memeluk bayi atau memeluk wanita dengan penuh nafsu. Semua tergantung dari pengalaman pembacanya. Dengan cara melihat secara terpisah membuat interpretasi lebih terbuka dan memunculkan berbagai kemungkinan interpretasi.

Sedangkan dengan cara melihat teks dengan menyeluruh, kita ketahui dengan jelas subjek dan objeknya berlawanan jenis. Sehingga besar kemungkinan interpretasi erotis atau berdampak erotis. Untuk memperoleh pengertian non erotis tidak bisa lagi karena secara linguistik yakni kata ‘mendekap’ sudah memberi makna erotis. Yang patut diingat proses semiotik keduanya sama-sama tak terbatas.

Berbeda dengan Pierce, Saussure menjelaskan makna teks erotis dengan sistem sekunder yakni konotasi. Sebagai contoh puisi karya Sitor Situmorang yang sekilas tampak erotis namun jika pembacanya adalah seorang guru maka guru tersebut menerangkan dari sajak-sajaknya. Berbeda dengan murid yang langsung menangkap puisi tersebut sebagai teks berdampak erotis. Selain Saussure, Eco melihat teks erotis bukan hanya bisa ditafsirkan secara bebas tapi juga dihasilkan oleh kerja sama pembacanya. Teori ini tak jauh dari teori tentang isi (C) dari Barthes.

Sumber: Mata Kuliah Teori Kebudayaan Pasca Sarjana UI
Fakultas Ilmu Budaya
Dosen Benny Hoed

Selasa, 27 Desember 2016

Menjumpai Kesenangan di Malang (1)


Perjalanan Malang adalah perjalanan kedua gue selaku copywriter di detik.com. Alhamdulillah-nya, gue dapat tambahan hari di Malang gara-gara pesawatnya enggak ada yang sore untuk balik ke Jakarta.

Dan berarti ini adalah kesempatan gue bisa eksplor Malang makin besar. Hehehe.... udah mikir2 harus kemana dulu, biar semua destinasi wisata kebagian.

Nah sesampainya di sana, gue sempet galau karna mau hujan dan gak asyik banget, eksplore tempat wisata ujan. Karena ga mau galau kelamaan akhirnya gue langsung putusin cus dari hotel ke Jatim Park 2. Dipikir sih masih sempet, ternyata udah keburu tutup. TT. resee.... padahal tutupnya jam 6. dan gue ke sana masih jam 5 sore dong.




Ga mau bergalau ria, akhir gue jalan beberapa ratus meter buat ke Batu Night Spectacular yang baru buka jam 05.00 sore. Sembari nunggu gue ke rumah sosis di depan lokasi yang harganya lumayan banget dah, tapi ya sekali-kali.

Btw info aja, di sini waktunya lebih cepet jam 05.30 udah magrib dan udah gelap banget. jadi harus pinter-pinter hitung waktu.

Harga tiket utk masuk ke BNS ini sebenarnya murah sekitar 40 ribu tapi ada tiket terusan juga yang harganya 100 ribu. Untuk tiap wahana dikenai biaya sekitar 15 ribu-30 ribu aja. kamu bisa coba berbagai wahana yang mirip dufan mini sekaligus pasar malam hahaha....

gw coba beberapa wahana, kayak skr driving, bom-bom car, ontang-anting, wahana 3d, festival lampu dan lain-lain. karena gue datang kecepetan jadi belum banyak org apalagi itu bukan hari weekend.


Hasilnya buat nyoba wahana biar ga garing gw nunggu orang-orang ikut main wahana ini dulu. hahaha aneh ya...

begitu juga di festival lamp-nya gue harus deket2 orang trus minta difotoin, untuk solo traveling emang bagian ini yang enggak enak. hahaha...

tapi so far oke sih. oh ya, untuk ke sini klo malem2 rada susah karena gak ada angkot dari Kota Malang. Tapi di sekitar banyak losmen yang harganya miring. Amannya sih emang ke sini siang2 tapi klo mau ke BNS nunggu sampe malam hahahha....


Klo naek taksi lain lagi cerita karena harga taksinya ya selangit. tapi gw pp kena 150 ribu dari kota malang sampai batu. Menurut info kalau pake taksi khusus Batu harganya bisa berkali-kali lipat.

Malang emang penuh destinasi wisata, tapi susah angkot karena angkot ini biasa sampe sore. Gojek sih ada tapi jarang banget dan masih fokus di Kota Malang. Menurut orang Malang untuk taksi aja meskipun ada argo tapi orang Malang biasanya tawar menawar.

Tapi klo naek taksi based argo, deket aja bisa kena 30 ribu karna itu harga minimalnya. Bener2 gak ramah banget utk backpacker kayak gue. Yah alhasil abis dari sini tabungan terkuras habis wakaka....

Selasa, 13 Desember 2016

Jalan-Jalan di Kota Terlarang China

Lapangan yang paling besar di dunia, Lapangan Tianmen 


Lapangan Tianmen China merupakan lambang pintu masuk Beijing yang mempunyai tinggi 33,7m. Lapangan ini dibangun saat Dinasti Ming lahir, arti dari Tianmen yaitu memerintah negara dengan aman sesuai mandat dari langit. Panjang gerbang depan sampai ke selatan dan utara yakni 880m, sedangkan panjang timur baratnya sekitar 500m dan dapat  menampung seratus ribu orang. 

Lapangan ini merupakan lapangan terbesar dan terluas di dunia. Dikenal juga sebagai balai agung rakyat (assembly hall) dan museum sejarah 

Tempat tinggal kaisar yang seperti benteng besi


Bagian-bagian kota terlarang sebagian besar dibagi menurut kegiatan kaisar mulai dari urusan negara dan juga keseharian kaisar seperti makan, tidur, dan sebagainya. Bagunan-bangunan utama meliputi istana Nei Ting, Wai Chao dan lain-lain yang lantainya terdiri dari 40 tumpukan batu-batu sebagai tembok guna ntuk menghalangi penyusup. 

Istana ini juga tidak pernah ditinggalkan oleh penjaganya, hal ini karena setiap malam sering ada para pembunuh yang bersembunyi di pepohonan sekitar istana. Jika kita berkeliling kota terlarang mungkin tidak ditemukan
adanya penjara

Foto pencipta rezim komunis Mao Zedong dimana-mana 



Mao zedong (1893-1976) adalah pemimpin negara Republik Rakyat China, dia juga yang telah menciptakan kedamaian melalui kebijakan-kebijakannya, setelah kesulitan akibat perang yang terus meliputi China. Di salah satu bagian kota terlarang terpampang potret Mao Zedong, alasannya pada tahun 1949 Mao Zedong mendeklarasikan berdirinya negara Republik Rakyat China. 

Di zaman Mao, tulisan aksara China pun berkembang, dengan dibuatnya aksara cina sederhana guna untuk memerangi buta huruf. 

Sumber : World Culture China, Kang Yoon Ok,  Komik hiitoon.com



Selasa, 29 November 2016

Hebat! Bayi Sudah Bisa Membedakan Bahasa Asing


Sampai kini dualisme teori dan pendapat pemerolehan dan pembentukan persepsi anak belum bisa terpecahkan. Sebagian mengikuti Chomsky dan menganggap anak mampu berbahasa karena dorongan dari lingkungan dan sifat alami manusia. Tetapi setelah 50 tahun berlalu, pendapat lainnya dari Elman dan Saffran muncul dan menyanggah kemampuan bahasa bukanlah bersifat turunan tetapi lebih karena kemampuan anak dalam mengembangkan kemampuan bahasa.

Untuk membuktikan dua teori kuat tersebut serangkaian penelitian pun dilakukan untuk mencari tahu proses pemerolehan bahasa yang terjadi pada bayi setiap bulannya. Seperti High-amplitude Sucking (HAS) yang menjadikan kecepatan mengisap dot pada anak menjadi acuan. Di dalam dot tersebut ditaruh alat pengukur kecepatan untuk mengetahui apakah anak berekasi ketika diberi suara tertentu. Ada juga metode penelitian yang menggunakan conditional head-turn. Dengan metode ini, reaksi anak bisa dilihat dari perhatian yang diberikan anak terhadap objek dan suara tertentu. Reaksi dan kecenderungan yang diukur lewat dua metode itu akan menuntun anak membangun persepsi dan pengetahuan bahasa mereka.



Dari penelitian itu didapat bahwa setiap bulan, anak belajar bahasa untuk pertama kalinya dengan cara mengkategorikan suara yang dia dengar, dari situ dia mulai menghubungkan suara dengan kata dan akhirnya mampu berkomunikasi dengan orang lain. Liberman menyebutnya dengan persepsi kategorikal (Peter W Jusczyk 2000 : 46) .

Berikut adalah hasil penelitian pada anak yang menunjukan kecenderungan anak terhadap variasi suara tertentu :

1. Membedakan berbagai konsonan

Dari metode HAS tersebut, didapat bahwa bayi sudah bisa membedakan bunyi konsonan dan suku kata. Sebagai contoh Eimas pernah menguji anak berumur satu bulan. Saat itu dia memperdengarkan suara /b/ dan /p/  dengan jeda diantaranya. Hasilnya si bayi mampu membedakan bunyi /b/ dan /p/ seperti orang dewasa. Dari konsonan ini anak bisa membedakan aspek fonologis lebih jauh lagi. Seperti membedakan tinggi rendah konsonan tersebut pada umur dua bulan. Kemudian kemampuan ini berkembang saat anak sudah bisa membedakan  huruf dan suku kata.

2. Membedakan bahasa asing

Meski belum punya pengetahuan dengan tentang bahasa asing, bayi ternyata mampu membedakan bahasa ibunya dengan bahasa asing. Dengan menggunakan metode HAS juga, seorang bayi Perancis berusia empat hari mampu membedakan bahasa Perancis dan bahasa Rusia. Sebab saat diperdengarkan kedua bahasa tersebut, isapan dot anak lebih cepat saat diperdengarkan bahasa Perancis daripada bahasa Rusia. Tetapi jika bayi tersebut berasal dari orang tua yang berbeda negara maka saat diperdengarkan bermacam-macam suara dari berbagai bahasa seperti Polandia, Rusia, Arab dan sebagainya, dia sama sekali tidak menunjukan kecenderungan pada bahasa apapun. Dari sini bisa disimpulkan anak lebih suka asal bahasa ayah ibu mereka.

Selain itu, peneliti lain mencoba membandingkan bahasa yang berbeda ke seorang anak.  Dari percobaan Trehub seorang anak Kanada satu diperdengarkan suku kata dari bahasa Inggris dan bahasa Ceko. Ternyata anak mampu membedakan fonem yang mirip dalam bahasa Inggris dan Ceko. Tetapi hal justru tidak bisa dilakukan dengan baik oleh orang dewasa. Serangkaian penelitian juga dilakukan dan hasilnya sama, sehingga peneliti menyimpulkan semakin besar anak maka dirinya akan semakin sulit membedakan fonem yang mirip. Hal itu karena semakin bertambah dewasa maka semakin sering juga dia menemukan lingkungan bahasa yang berbeda yang menyebabkan dirinya tidak bisa fokus lagi. (Jacqueline Sachs dalam Jean Berko Gleason 2001 : 72).

Kemampuan membedakan bahasa asing ini tak lepas dari kemampuan anak membedakan ritme dan tekanan bahasa. Seperti yang diketahui di setiap bahasa memang mempunyai karakteristik baik berupa ritme dan tekanan berbeda. Seperti ritme di dalam bahasa Perancis dan Jepang dimana panjang huruf vokal dan konsonan berlainan. Pengetahuan seperti inilah yang akan mengantarkan anak mengetahui tataran fonologi lebih dalam.

3. Membedakan suara ibu

Banyak penelitian yang mengatakan bahwa suara ibu telah dideteksi anak sejak dalam kandungan. Menurut para peneliti menganut Nativis itu karena pola bicara ibu dan karakter prosodic bahasa ibu lebih mampu diserap sempurna dibandingkan yang lain (Peter W Jusczky 2000: 77). Hal tentu karena anak telah terbiasa dan menyimpan suara ibu di dalam memorinya sejak dia masih berada di dalam kandungan. Tak heran, jika setelah lahir respon terhadap suara ibu lebih tinggi dibandingkan dengan suara orang lain.



Peneliti Spence dan DeCasper yang membuktikan anak lebih menyukai suara ibunya yang asli ketika membacakan cerita dibandingkan dengan rekaman suara ibunya. Padahal suara itu sudah dibuat sedemikian mirip. Selain itu, bayi dianggap cepat tanggap terhadap bahasa asing yang diajarkan atau diucapkan ibunya. Jika si ibu sering mengulang-ulang bahasa asing tersebut maka anak diperkirakan mampu membentuk dan memperoleh bahasa asing itu lebih cepat.

4. Membedakan bunyi dan bahasa yang berpola

Bayi lebih menunjukkan kesukaannya pada bunyi dan bahasa yang punya berpola. Eksperimen ini pernah dilakukan pada bayi berumur 3 bulan. Seperti suara ibu, anak juga lebih suka dengan cerita yang sudah sering dibacakan dibandingkan dengan cerita yang baru. Apalagi cerita itu sering dibacakan sebelum dia lahir. Selain itu, bayi juga senang dengan kata-kata tertentu yang punya tekanan. Seperti pada kata baby, little dan robbin yang punya tekanan di suku kata awalnya. Menurut penelitian Jusczky, Cutler dan Redanz anak lebih menunjukkan kecenderungannya pada pola penekanan kata strong-weak dibandingkan weak-strong. Anak berusia enam bulan mendengar lebih lama pada kata berpola strong week dibandingkan pola lain (dalam Eve Clark 2009 : 60). Pola-pola seperti disebut dengan prosodic features.


Meski begitu  ada perbedaan persepsi pola di setiap negara. Contohnya orang tua Afrika-Amerika di Carolina yang tidak pernah menggunakan pola bicara yang tinggi kepada anak, jika hal yang terjadi demikian maka mungkin ada pola lainnya untuk menarik perhatian anak.

5. Happy Talk

Seperti manusia pada umumnya, anak juga menyukai jika orang dewasa berbicara bahagia atau happy talk dengan lawan bicaranya. Dari percobaan yang dilakukan oleh Sigh didapat bahwa anak berumur enam bulan mendapat dampak postitif jika orang-orang di sekelilingnya bahagia (Jacqueline Sachs dalam Jean Berko Gleason 2001 : 49). Bahkan anak mampu mendeteksi jika ibu mereka sedang mengalami depresi. Sebab ibu yang depresi tidak banyak memproduksi kata-kata berpola seperti yang disukai anak. Jika ini terus berlanjut dikhawatirkan kemampuan komunikasi anak tidak berjalan optimal.